Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sebuah kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba di Samudra Pasifik bagian timur pada Selasa, 26 Mei 2026, yang mengakibatkan satu orang tewas dan dua lainnya selamat. Insiden ini menjadi bagian dari kampanye besar-besaran yang telah berlangsung sejak awal September di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang menargetkan kapal-kapal yang dicurigai terlibat dalam perdagangan narkoba di perairan Amerika Latin, termasuk Pasifik timur dan Laut Karibia.
Video yang diunggah di media sosial oleh Komando Selatan AS (US SOUTHCOM) memperlihatkan sebuah kapal melaju cepat di permukaan laut sebelum akhirnya meledak dan terbakar. Dalam keterangannya, US SOUTHCOM menyatakan bahwa pihaknya segera menghubungi Penjaga Pantai AS untuk mengaktifkan sistem pencarian dan penyelamatan bagi para korban selamat. Namun, hingga saat ini, militer AS belum memberikan bukti konkret bahwa kapal-kapal yang diserang benar-benar membawa muatan narkoba.
Sementara itu, laporan menyebutkan bahwa operasi ini telah menewaskan sedikitnya 194 orang sejak dimulai. Angka tersebut memicu kekhawatiran di kalangan anggota Partai Demokrat dan pakar hukum militer, yang menyoroti legalitas dari serangan-serangan tersebut. Pekan lalu, pengawas internal Pentagon mengumumkan akan mengevaluasi apakah militer AS telah mengikuti kerangka penargetan yang ditetapkan saat melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba.
Kerangka enam tahap yang dikenal sebagai Joint Targeting Cycle itu mencakup niat komandan militer, pengembangan target, analisis, pengambilan keputusan, eksekusi, dan evaluasi. Kantor Inspektur Jenderal Pentagon menyatakan bahwa peninjauan tersebut dilakukan atas inisiatif internal. Meski demikian, evaluasi ini tidak akan menyelidiki legalitas serangan, yang justru menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak.
Di sisi lain, pemerintahan Trump menyatakan bahwa AS sedang berperang melawan kartel narkoba Amerika Latin, yang dituding bertanggung jawab atas tingginya angka kematian akibat overdosis narkoba di berbagai komunitas di AS. Pernyataan ini menjadi dasar pembenaran atas operasi militer yang terus berlangsung di kawasan tersebut.
Artikel Terkait
Bamsoet: Semangat Kurban Jadi Fondasi Ketahanan Nasional di Tengah Tekanan Global
BSN Salurkan 245 Hewan Kurban ke Masyarakat di Berbagai Wilayah Indonesia
PSC 119 Sidoarjo Tangani 542 Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Sepanjang Januari-Mei
13 WNI Gagal Berangkat Haji dari YIA karena Diduga Jalur Ilegal