Kebakaran Terra Drone: Api yang Membakar Data dan Misteri Sawit Sumatera

- Kamis, 11 Desember 2025 | 16:25 WIB
Kebakaran Terra Drone: Api yang Membakar Data dan Misteri Sawit Sumatera

Kebakaran hebat di gedung Terra Drone pada 10 Desember 2025 masih menyisakan duka. Tragedi yang menewaskan 22 orang itu bukan sekadar insiden biasa. Dari awal, ada yang terasa janggal.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, langsung menyoroti masalah mendasarnya. Gedung itu, katanya, dibangun tanpa mematuhi aturan keselamatan paling dasar.

"Ini gedung yang dibangun tanpa aturan," tegasnya.

Bangunan itu cuma punya satu akses keluar-masuk. Tangganya sempit, dan yang paling mengerikan, pintu daruratnya tidak ada. Ringkasnya, tempat itu lebih mirip perangkap saat api melahap segalanya.

Penyelidikan sementara menduga sumber api berasal dari ruang penyimpanan baterai lithium, komponen vital untuk armada drone perusahaan. Tapi, benarkah hanya kecelakaan teknis belaka? Di tengah proses penyelidikan, nama Terra Drone justru mencuat dalam konteks lain yang sama sekali berbeda.

Jauh sebelum kobaran api menghanguskan gedungnya, perusahaan ini adalah pionir. Mereka punya unit bernama Terra Agri yang aktif memetakan ribuan hektare kebun sawit di Sumatera. Mereka menyediakan jasa pemetaan resolusi tinggi, sensus pohon, hingga survei kondisi lahan. Data-datanya dipakai perusahaan-perusahaan besar untuk perencanaan, prediksi panen, hingga deteksi hama. Singkatnya, mereka punya mata di udara yang merekam detail perkebunan sawit jantung produksi CPO Indonesia.

"Drone memberi gambaran detail kondisi kebun sawit yang tidak bisa dicapai oleh inspeksi manual," begitu bunyi pernyataan resmi mereka suatu ketika.

Kaitan dengan Banjir Sumatera?

Nah, di sinilah spekulasi mulai bergulir. Bencana banjir dan longsor hebat di Sumatera yang menelan ratusan jiwa baru saja terjadi. Rekam jejak pembukaan lahan sawit pun jadi sorotan. Lalu, tiba-tiba gedung yang menyimpan dokumentasi pemetaan sawit itu terbakar hebat. Coincidence? Banyak warganet di TikTok yang tidak percaya itu kebetulan belaka.

"kyk terra drone lagi diintimidasi sama pihak tertentu buat musnahin dokumennya," tulis akun @ijat".

"iya pasti lah gaya mainnya udah kebaca," sahut @danny.

"tebak siapa dalangnya tidak jaug dengan yang terjadi dibeberapa tempat," kata @Ontay".

Komentar lain bahkan menyoroti respons pemerintah yang dianggap tidak biasa. "makanya smpe Mendagri Tito Karnavian lngsng konprensi press, pdhl kasus kebakaran kejaksaan agung dia anteng² aja," tulis @idzho83.

Ada juga yang menghubungkannya dengan pola lama. "Motif nya kek jaman orba , saat sidang kasus korupsi soeharto bnyak kantor2 dibakar menghilangkan bukti dan saksi," kata @Fransiskasari.

Meski begitu, beberapa netizen meragukan efektivitasnya. "sekelas mereka nyimpen file2 pasti di could," sanggah @Akbar Firmansyah Munarfa. Tapi yang lain balik bertanya, kalau data aman, lantas apa motif sebenarnya di balik kebakaran tragis ini?

Mencari Akar Masalah di Sumatera

Terlepas dari spekulasi, bencana di Sumatera memang butuh penjelasan yang jernih. Uchok Sky Khadafi dari Center For Budget Analysis (CBA) mencoba menguraikannya. Memang, siklon tropis Senyar membawa hujan ekstrem. Tapi, kata dia, faktor manusia dan industri tak boleh diabaikan.

"Faktor inilah yang harus ditelusuri agar ketemu akar penyebabnya," jelas Uchok.

Menurutnya, di Sumatera Utara ada tiga klaster industri yang patut disorot: sawit, tambang, dan kertas. Industri sawit menguasai konsesi paling luas, mencapai 2,018 juta hektar secara resmi. Itu belum termasuk yang ilegal.

"Angka ini baru yang tercatat secara resmi, di luar itu masih ada kebun sawit ilegal yang ditengarai sering melakukan land clearing atau pembukaan lahan dengan membabat hutan secara serampangan," paparnya.

Ia mencontohkan kasus PT Sinar Gunung Sawit Raya (SGSR) yang diduga menanam sawit ilegal di hutan seluas 451 hektar. "Penguasaan lahan secara ilegal seperti yang dilakukan PT SGSR ini harus diusut tuntas dan diproses hukum," tegas Uchok.

Klaster kedua adalah pertambangan, seperti tambang emas Martabe. Konsesinya yang luas disebut tumpang-tindih dengan kawasan ekosistem sensitif dan hutan lindung di wilayah Tapanuli episentrum bencana. "Kalau memang ada pelanggaran, harus diproses hukum," desaknya.

Klaster ketiga, industri kertas seperti PT Toba Pulp Lestari, meski luas konsesinya signifikan, skalanya jauh lebih kecil dibanding lahan sawit. "Jadi, pemerintah harus jeli melihat akar masalah yang sesungguhnya," katanya.

Bagi Uchok, ini soal diagnosis yang tepat. Ibarat penyakit, salah diagnosis berarti salah obat. Pemerintah harus tegas menindak aktivitas ilegal yang merusak. Sebab, aktivitas semacam itu punya daya rusak luar biasa karena mengabaikan semua aturan.

"Jangan sampai gara-gara ada pengusaha mengejar uang melimpah, masyarakat menjadi korban tertimpa musibah," tandasnya.

Kebakaran Terra Drone dan bencana ekologis di Sumatera mungkin terpisah secara geografis. Tapi di permukaan, keduanya seperti dihubungkan oleh benang merah yang sama: data, lahan, dan pertanyaan besar yang masih menuntut jawaban yang jelas.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler