Harga minyak masih menggila, tembus di atas 100 dolar AS per barel. Kekacauan di Selat Hormuz, yang dipicu oleh ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, benar-benar mengguncang pasar energi global. Imbasnya terasa sampai ke Jepang. Negeri Matahari Terbit itu akhirnya mengambil langkah darurat: melepas cadangan minyak nasionalnya.
Pengumuman resmi pemerintah Jepang keluar pada Senin, 16 Maret 2026. Langkah ini sebenarnya sudah diisyaratkan sebelumnya oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi.
“Kami berencana melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan nasional untuk meredam kekhawatiran atas pasokan,” ujarnya, seperti dilaporkan Al Jazeera, Selasa (17/3/2026).
Menariknya, keputusan Tokyo ini muncul hampir bersamaan dengan rencana Badan Energi Internasional (IEA). Lembaga itu sendiri akan mengoordinasikan pelepasan cadangan yang jauh lebih besar, mencapai 400 juta barel, demi menstabilkan harga.
Tapi, upaya kolektif itu sejauh ini belum cukup menenangkan pasar. Sentimen panik masih kuat. Para analis memperingatkan, harga bisa terus merangkak naik selama arus minyak melalui Selat Hormuz masih macet. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi energi dunia, yang mengalirkan sekitar seperlima dari pasokan minyak global.
Artikel Terkait
Anggota DPRD Sidak Terminal Kalideres, Temukan Masalah Kebersihan dan Sirkulasi Udara
Kapolda Jamin Situasi Terkendali Pasca Ledakan di Masjid Jember, Tim Gabungan Selidiki Dugaan Bahan Kimia
Pertamina Tambah SPBU Modular Jadi 96 Titik untuk Antisipasi Antrean Mudik
Arus Mudik H-4 Lebaran di Tol Cipali Naik 22%, Sistem Satu Arah Diterapkan