Di sisi lain, gambaran untuk impor justru berbeda. Pada bulan yang sama, nilai impor Jepang tercatat turun 2,5 persen dibandingkan Januari 2025. Penurunan ini menjadi kejutan tersendiri, karena sebelumnya para ahli justru memprediksi akan terjadi kenaikan sebesar tiga persen.
Kombinasi antara ekspor yang melonjak dan impor yang menyusut membawa dampak langsung pada neraca perdagangan. Defisit yang terjadi tercatat sebesar 1,15 triliun yen, suatu angka yang jika dikonversi setara dengan sekitar Rp126 triliun. Meski masih berada di zona merah, nilai defisit ini jauh lebih rendah dari bayangan para analis, yang memperkirakan angka defisit bisa mencapai 2,14 triliun yen.
Konteks Perlambatan Ekonomi
Kinerja perdagangan yang menggembirakan di awal tahun ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Ekonomi Jepang sendiri sempat menunjukkan tanda-tanda kelelahan di penghujung 2025. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal Oktober-Desember 2025 hampir stagnan, hanya bergerak 0,1 persen secara kuartalan dan 0,2 persen secara tahunan.
Secara keseluruhan, untuk tahun kalender 2025, produk domestik bruto (PDB) Jepang masih berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,1 persen. Data ini menggarisbawahi bahwa meski menghadapi tantangan di dalam negeri, daya saing sektor ekspor Jepang di pasar global tetap terjaga, bahkan menunjukkan ketahanan yang mengesankan.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Lahan Strategis untuk Perumahan Rakyat
Wali Kota Bima Turun Tangan Mediasi Polemik Dapodik Siswa Kelas VI
Ramalan Keuangan Aries 7 April 2026: Pemasukan Stabil, Waspada Pengeluaran Impulsif
Kejagung Periksa Empat Jaksa Terkait Kasus Mark-Up Videografer Amsal Sitepu