Laporan ekspor Indonesia sepanjang 2025 baru saja dirilis oleh Badan Pusat Statistik. Hasilnya? Bisa dibilang beragam. Tiga komoditas andalan batu bara, minyak sawit, dan besi baja menunjukkan performa yang berbeda jauh. Dua yang terakhir bersinar, sementara yang pertama justru terpuruk.
Batu bara benar-benar dapat rapor merah tahun ini. Menurut data BPS, nilai ekspornya anjlok tajam, hampir 20 persen. Angkanya merosot dari USD30,49 miliar di 2024 menjadi hanya USD24,48 miliar di akhir 2025.
“Nilai ekspor batu bara ini turun 19,70 persen juga secara kumulatifnya dari Januari sampai dengan Desember 2025,”
kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, seperti dikutip Selasa lalu. Penurunan tak hanya terjadi pada nilai, tapi juga volume pengirimannya yang turun 3,66 persen menjadi 390,3 juta ton.
Namun begitu, ceritanya berbeda untuk dua komoditas unggulan lainnya. Minyak kelapa sawit atau CPO serta produk turunannya justru jadi primadona. Nilai ekspornya melonjak 21,83 persen menjadi USD24,42 miliar, didorong kenaikan volume sebesar 9,09 persen. Performa solid juga datang dari besi dan baja, yang nilainya naik 8,41 persen menjadi hampir USD28 miliar.
Jadi, meski sektor pertambangan tertekan karena batu bara, industri pengolahan secara keseluruhan masih tumbuh cukup baik, yakni 14,47 persen. Andil terbesar tentu dari hilirisasi sawit yang kinerjanya sangat bagus.
Di sisi lain, ada kabar menggembirakan dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Ekspornya melesat lebih dari 21 persen, didorong tingginya permintaan global untuk komoditas kopi. Ini jadi penyeimbang yang baik.
Dalam rilis resminya, BPS menegaskan, "Ekspor produk pertambangan dan lainnya turun 23 persen yang disebabkan penurunan penjualan batu bara."
Kalau dilihat khusus untuk bulan Desember 2025 saja, volume ekspor batu bara sebenarnya relatif stabil di angka 36,28 juta ton, hanya turun tipis 0,45 persen dibanding Desember tahun sebelumnya. Tapi secara keseluruhan, tren penurunannya jelas terlihat.
Pada akhirnya, laporan ini menunjukkan betapa ekspor kita masih bergantung pada beberapa komoditas kunci. Ketika satu melemah, yang lain harus menopang. Tahun 2025, sawit dan besi baja lah yang menjadi penyelamat.
Artikel Terkait
Indonesia Kecam Serangan ke Kilang Minyak UEA, Nilai Ancam Keamanan Energi Global
Presiden Prabowo Setujui Enam Rekomendasi KPRP, Dorong Penguatan Kompolnas dan Revisi UU Polri
iNews Media Group Luncurkan Program Campus Connect untuk Jembatani Kampus dan Industri Media
Pelajar SMK di Samarinda Meninggal Akibat Sepatu Terlalu Kecil, Sempat Alami Pembengkakan Kaki