✍🏻 Dinda Aishah
Pernah nggak sih, kita merasa yakin banget tentang sesuatu? Dulu, aku yakin poligami bisa jadi solusi. Bisa meringankan beban yang kupikul sebagai seorang istri. Dan hasilnya? Ya, persis seperti yang kuyakinan itu.
Waktu itu, aku juga percaya suamiku adalah lelaki baik. Aku pegang teguh keyakinan itu. Dan lagi-lagi, kenyataannya sesuai. Lalu, aku yakin dia bisa adil pada semua istrinya. Keyakinanku pun terbukti.
Bahkan soal madu-maduku, aku punya prasangka baik. Kukira mereka orang-orang yang baik hati. Dan ternyata, ya, mereka memang begitu adanya.
Tapi coba bayangkan skenario sebaliknya. Kalau saja yang kurasakan justru siksaan, kalau aku anggap suamiku tak adil, atau maduku menzalimiku… besar kemungkinan, hidupku akan berjalan sesuai dugaan buruk itu juga.
Kok bisa? Rupanya, ini bukan sekadar teori psikologi biasa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku….”
(Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]
Jadi, prasangka dan rasa was-was yang berlebihan itu seringkali justru bumerang. Merusak diri sendiri lebih dulu sebelum mengganggu orang lain. Soalnya, bahagia itu tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab pasangan.
Intinya sederhana: “What you think, that’s what you get.” Apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan kamu dapat.
Barakallah fikum.
Soal tulisan di atas? Saya sih cuma mau berbagi aja, yang kutemukan di linimasa seorang teman. No comment lebih lanjut.
Artikel Terkait
Maia Estianty Pamer Momen Mesra dengan Irwan Mussry di Tengah Polemik Ahmad Dhani soal Dugaan KDRT
PDAM Bone Antisipasi Krisis Air Bersih Akibat Musim Kemarau dan Alih Fungsi Lahan
Perekonomian Sulawesi Selatan Tumbuh 6,88 Persen di Triwulan I 2026, Ditopang Sektor Pemerintahan dan Konsumsi Publik
Dua Calon Jemaah Haji Asal Soppeng Tertunda Berangkat karena Tidak Laik Terbang