Gubernur DKI Setujui Pembangunan PLTSa di Bantargebang untuk Tekan Emisi Metana

- Kamis, 07 Mei 2026 | 13:15 WIB
Gubernur DKI Setujui Pembangunan PLTSa di Bantargebang untuk Tekan Emisi Metana

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyusun skema pengolahan sampah yang lebih komprehensif setelah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi disebut sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia sepanjang tahun 2025. Temuan tersebut merupakan hasil riset dari Emmett Institute di Fakultas Hukum University of California, Los Angeles (UCLA).

Menanggapi hal itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan telah menyetujui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di lokasi tersebut. Proyek ini dirancang untuk mengolah sampah menjadi energi listrik sebagai bagian dari solusi jangka panjang.

"Yang pertama, saya sudah menyetujui untuk di sana segera dibangun untuk PLTSa pembangkit listrik tenaga sampah," ujar Pramono, Kamis (7/5/2026).

Selain PLTSa, pemerintah daerah juga menyiapkan skema pengolahan sampah menjadi bahan bakar di TPST Bantargebang. Fokus utama diarahkan pada metode refuse derived fuel (RDF), yang memungkinkan sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif.

"Sehingga dengan demikian nanti di sana ada tiga aktivitas, untuk RDF Bantargebang, yang kedua untuk fuel, yang ketiga untuk menjadi energi (PLTSa)," kata Pramono.

Jika ketiga skema tersebut beroperasi penuh, Pramono optimistis emisi gas metana dari TPST Bantargebang dapat ditekan secara signifikan. Saat ini, volume sampah yang telah tertimbun di lokasi tersebut diperkirakan mencapai 55 juta ton.

"Dan kalau itu bisa dilakukan, pasti itu akan mengurangi banyak metan yang ada di sana yang sudah tertimbun begitu lama, cadangannya sudah 55 juta. Saya tidak mau menyalahkan siapapun tetapi ini menjadi tanggung jawab kita untuk menyelesaikan itu," kata dia.

Sementara itu, pengelolaan sampah dengan metode RDF juga telah berjalan di Rorotan, Jakarta Timur. Pramono menyebutkan bahwa RDF Rorotan saat ini mampu mengelola sampah sebanyak 750 ton per hari.

"Saya minta untuk Rorotan sekarang ini juga sudah produksi sudah sehari rata-rata 750 ton, saya minta untuk pelan-pelan ditingkatkan tetapi diperbaiki infrastrukturnya supaya tidak memberikan dampak bau maupun pernapasan bagi warga yang ada," ujarnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar