Kolaborasi BRI dan BP Batam Pacu Investasi dan Daya Saing UMKM

- Selasa, 03 Februari 2026 | 09:40 WIB
Kolaborasi BRI dan BP Batam Pacu Investasi dan Daya Saing UMKM

Batam kembali menjadi sorotan. Di tengah geliat investasi yang kian menguat, sebuah kolaborasi strategis baru saja diresmikan. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mempertajam perannya dengan menandatangani nota kesepahaman bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam. Intinya? Memperluas akses pembiayaan dan mengukuhkan peran UMKM di kawasan perdagangan bebas itu.

Acara penandatanganan berlangsung Kamis lalu, dalam rangkaian Batam Investment Gala. Suasana ruang pertemuan di Batam itu cukup hiruk-pikuk, dihadiri langsung oleh sejumlah pejabat kunci. Mulai dari Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza, Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu, hingga pimpinan BP Batam Amsakar Achmad. Dari sisi BRI, hadir dua direkturnya: Riko Tasmaya dari Corporate Banking dan Akhmad Purwakajaya dari Micro Banking.

Kerja sama ini punya dua kaki. Pertama, MoU antara BRI dan BP Batam untuk pemanfaatan produk perbankan guna mendukung transaksi dan pembiayaan di Batam. Kedua, ada MoU lebih luas yang melibatkan Kementerian UMKM, bertujuan membuka akses permodalan dan investasi bagi pelaku usaha kecil. Langkah ini diharapkan bisa mendorong realisasi investasi sekaligus membuat UMKM tumbuh lebih kokoh.

Pilihan Batam tentu bukan tanpa alasan. Letaknya yang strategis, berdekatan dengan Singapura dan jalur perdagangan global, membuatnya punya daya tarik kuat. Industri manufaktur berbasis ekspor di sana sudah mapan. Belakangan, sektor logistik, perdagangan, dan jasa juga tumbuh pesat. Dengan status kawasan bebas, Batam memang jadi ujung tombak daya saing Indonesia di kancah regional.

Menurut Direktur Corporate Banking BRI, Riko Tasmaya, kolaborasi ini adalah wujud nyata komitmen bank plat merah tersebut.

“Kami ingin membangun konektivitas investasi yang utuh. Mulai dari investasi asing langsung, penguatan kawasan industri, sampai memberdayakan UMKM sebagai bagian dari rantai nilai,” jelas Riko.

“Bagi kami, UMKM bukan sekadar penerima pembiayaan. Mereka adalah mitra strategis dalam ekosistem yang berkelanjutan dan berdaya saing,” tambahnya.

Untuk mewujudkannya, BRI mengandalkan pendekatan terintegrasi bernama BRI One Solution. Layanan perbankan korporasi disatukan, dari pembiayaan hingga pendampingan usaha. Mereka juga punya platform digital QLola, yang berfungsi sebagai ekosistem digital one-stop untuk mengelola arus kas, transaksi, dan likuiditas perusahaan. Fiturnya lengkap, mulai dari payroll, pembayaran internasional, sampai treasury.

Di sisi lain, upaya pemberdayaan juga dilakukan lewat jalur komunitas. BRI mengklaim telah membentuk lebih dari 42 ribu klaster usaha di berbagai daerah hingga 2025. Ada juga platform LinkUMKM yang konon telah dipakai hampir 15 juta pelaku usaha untuk menjangkau pasar lebih luas.

Sementara itu, dari sisi angka, kinerja investasi nasional tampak menggembirakan. Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu mengumumkan realisasi investasi 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, melampaui target presiden. Kontribusi Batam di situ cukup signifikan: Rp69,3 triliun, atau 15,5% di atas sasarannya.

“Angka ini bukan sekedar angka,” tegas Todotua.

“Ini mencerminkan kepercayaan, baik dari pengusaha dalam negeri maupun luar negeri. Kami pun berupaya menjemput bola agar investasi cepat terealisasi,” ujarnya.

Atas capaian itu, BP Batam pun diguyur penghargaan Investment Awards dari BKPM dalam beberapa kategori, seperti capaian investasi melampaui target dan pengembangan iklim investasi.

Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza menambahkan harapannya. Kolaborasi lintas kementerian ini diharapkan bisa memberi dukungan menyeluruh bagi UMKM di Batam.

“Dengan perluasan akses modal, pendampingan ekspor, dan peningkatan kapasitas, kami ingin UMKM Batam naik kelas. Mereka harus jadi penopang ekonomi lokal dan mampu bersaing secara global,” ungkap Helvi.

Sebagai proyek percontohan, Kementerian UMKM akan segera meluncurkan program pendampingan akses pembiayaan dan pelatihan bagi UMKM di Batam melalui program ACCES.

Jadi, lewat kolaborasi yang melibatkan banyak pihak ini, harapannya jelas: menciptakan ekosistem investasi yang inklusif dan berkelanjutan. Dampaknya, semoga tak hanya dirasakan Batam, tapi juga perekonomian nasional secara keseluruhan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar