Jadi, meski sektor pertambangan tertekan karena batu bara, industri pengolahan secara keseluruhan masih tumbuh cukup baik, yakni 14,47 persen. Andil terbesar tentu dari hilirisasi sawit yang kinerjanya sangat bagus.
Di sisi lain, ada kabar menggembirakan dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Ekspornya melesat lebih dari 21 persen, didorong tingginya permintaan global untuk komoditas kopi. Ini jadi penyeimbang yang baik.
Dalam rilis resminya, BPS menegaskan, "Ekspor produk pertambangan dan lainnya turun 23 persen yang disebabkan penurunan penjualan batu bara."
Kalau dilihat khusus untuk bulan Desember 2025 saja, volume ekspor batu bara sebenarnya relatif stabil di angka 36,28 juta ton, hanya turun tipis 0,45 persen dibanding Desember tahun sebelumnya. Tapi secara keseluruhan, tren penurunannya jelas terlihat.
Pada akhirnya, laporan ini menunjukkan betapa ekspor kita masih bergantung pada beberapa komoditas kunci. Ketika satu melemah, yang lain harus menopang. Tahun 2025, sawit dan besi baja lah yang menjadi penyelamat.
Artikel Terkait
Menteri Luar Negeri Iran Ucapkan Idulfitri dan Apresiasi Dukungan Indonesia, Malaysia, Brunei
Spalletti Geram, Juventus Gagal Penalti Lagi dan Cuma Raih Satu Poin Lawan Sassuolo
Bupati Bone Imbau Warga Alihkan Tabungan ke Emas Antisipasi Inflasi
Rekayasa Lalu Lintas Satu Arah Diberlakukan di Tol Jagorawi Menuju Puncak