Dunia kembali menahan napas. Presiden AS Donald Trump baru saja memberi ultimatum keras kepada Iran: buka Selat Hormuz dalam 48 jam, atau listrik di Teheran akan dipadamkan. Ancaman itu langsung mengguncang kawasan.
Namun, Iran sama sekali tak gentar. Balasan mereka datang cepat dan tak kalah keras. Lewat siaran Al Jazeera, militer Iran mengancam akan menghancurkan semua infrastruktur energi milik AS dan Israel yang tersebar di Timur Tengah, jika pembangkit listrik mereka jadi sasaran serangan.
Ancaman itu diperjelas oleh juru bicara mereka, Ebrahim Zolfaghari dari Komando Pusat Khatam al-Anbiya.
“Kami tidak hanya akan menyerang aset energi. Pabrik desalinasi dan infrastruktur teknologi informasi yang terkait dengan kedua negara itu juga akan kami hancurkan,” tegasnya.
Gegap gempita ancaman balasan ini seolah mengonfirmasi peringatan yang pernah dilontarkan mendiang Ali Larijani, mantan kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Kantor berita Fars mengutip pernyataannya bahwa jika jaringan listrik Iran diserang, maka seluruh kawasan bisa mengalami pemadaman hanya dalam waktu setengah jam.
Di sisi lain, seperti dilaporkan AFP, ultimatum Trump itu sendiri disampaikan pada Minggu, 22 Maret. Intinya sederhana namun mencemaskan: buka selat vital itu untuk lalu lintas pelayaran dalam dua hari, atau bersiaplah melihat infrastruktur energi Anda hancur. Situasinya kini seperti bubuk mesiu yang hanya menunggu percikan api.
Artikel Terkait
Dua Petinggi Sritex Divonis 14 dan 12 Tahun Penjara atas Korupsi Kredit Rp1,35 Triliun
Polisi Serahkan Empat Tersangka SMS Phishing E-Tilang Palsu ke Kejaksaan
Pemprov DKI Jakarta Prioritaskan Penataan 211 RW Kumuh di Jakarta Barat dan Jakarta Utara pada 2026
Pemilahan Sampah di Jakarta Resmi Dimulai 10 Mei, Digandengkan dengan CFD Rasuna Said