"Enggak, tetapi kan biar bagaimana prioritas-prioritas yang ada tentu terkait dengan agenda-agenda yang ditandatangani. Kemarin waktu di Davos memang semua bicaranya masalah, ya perdamaian lah. Dan juga terhadap perang yang ada, baik itu Ukraina maupun Gaza,"
pungkasnya.
Lantas, berapa besar nilai investasi atau keuntungan konkret yang bakal diraih Indonesia? Sayangnya, itu belum bisa diungkap ke publik. Pemerintah beralasan kedua pihak masih terikat perjanjian kerahasiaan atau NDA.
"Nanti belum, karena kita masih ada Non-Disclosure Agreement. Baru di-disclose sesudah ditandatangani,"
kata Airlangga singkat.
Jadi, semua mata kini tertuju pada penjadwalan ulang pertemuan puncak itu. Tinggal menunggu waktu yang pas bagi Presiden Prabowo dan Presiden Trump untuk bertemu dan memberi tanda tangan resmi.
Artikel Terkait
Gubernur DKI dan Wagub Akan Salat Idulfitri di Balai Kota, KH Maruf Amin Jadi Khatib
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Idulfitri dan Ajak Perkuat Persatuan Bangsa
Transaksi Ekonomi Jakarta Tembus Rp21 Triliun Selama Ramadhan
Kapolri Pantau Langsung Pengamanan Malam Takbiran, 72 Ribu Personel Dikerahkan