"Enggak, tetapi kan biar bagaimana prioritas-prioritas yang ada tentu terkait dengan agenda-agenda yang ditandatangani. Kemarin waktu di Davos memang semua bicaranya masalah, ya perdamaian lah. Dan juga terhadap perang yang ada, baik itu Ukraina maupun Gaza,"
pungkasnya.
Lantas, berapa besar nilai investasi atau keuntungan konkret yang bakal diraih Indonesia? Sayangnya, itu belum bisa diungkap ke publik. Pemerintah beralasan kedua pihak masih terikat perjanjian kerahasiaan atau NDA.
"Nanti belum, karena kita masih ada Non-Disclosure Agreement. Baru di-disclose sesudah ditandatangani,"
kata Airlangga singkat.
Jadi, semua mata kini tertuju pada penjadwalan ulang pertemuan puncak itu. Tinggal menunggu waktu yang pas bagi Presiden Prabowo dan Presiden Trump untuk bertemu dan memberi tanda tangan resmi.
Artikel Terkait
Misteri Pengendali IBC: BUMN Raksasa Bersatu tapi Tanpa Nahkoda
OJK dan ADB Pacu Obligasi Hijau ASEAN+3 di Yogyakarta
Promotor Senior Diduga Gelap Rp10 Miliar Dana Konser BTS
Pemerintah Buka 1.500 Kursi Vokasi Pertanian, 70% Prioritas Anak Petani