Serangan udara Israel di Gaza kembali terjadi, dan kali ini menelan puluhan korban jiwa. Pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia melayangkan kecaman keras terhadap aksi militer yang mereka sebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlaku.
“Indonesia mengecam keras serangan berulang Israel di Jalur Gaza, termasuk serangan terbaru pada 31 Januari 2026, yang menyasar kawasan sipil dan fasilitas publik,” tulis Kemlu di akun media sosialnya, Minggu (1/2/2026).
Nada tegas itu berlanjut. Menurut Kemlu, tindakan Israel ini bukan sekadar eskalasi, tapi sebuah pengingkaran komitmen.
“Tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlaku,” ujarnya.
Indonesia pun menyerukan agar Israel mematuhi kewajibannya. “Indonesia menyerukan kepada Israel, sebagai pihak dalam kesepakatan gencatan senjata, untuk memenuhi kewajibannya dan sepenuhnya menghormati kesepakatan tersebut,” ungkap pernyataan itu.
Di sisi lain, dampak di lapangan jauh lebih kelam dan personal. Korban berjatuhan. Sejak Sabtu dini hari (31/1), jet-jet tempur Israel dikabarkan menghantam berbagai titik di Gaza. Akibatnya, 37 warga Palestina dilaporkan tewas. Banyak yang luka-luka.
Badan Pertahanan Sipil Gaza mengonfirmasi angka korban. Dalam pernyataannya, serangan sejak Sabtu subuh itu menewaskan 32 orang, di antaranya anak-anak dan perempuan.
Rinciannya menyayat hati. Di lingkungan Rimal, Gaza barat, sebuah apartemen tempat tinggal dihantam. Lima nyawa melayang tiga anak dan dua perempuan. Beberapa lainnya terluka, menurut sumber medis yang berbicara kepada Anadolu.
Tragedi lain terjadi di barat laut Khan Younis. Sebuah tenda penampungan pengungsi di daerah Asdaa menjadi sasaran. Tujuh orang dari satu keluarga tewas: seorang pria, tiga putranya, dan tiga cucunya yang masih kecil. Informasi ini datang dari paramedis di Rumah Sakit Nasser setempat.
Menurut sejumlah saksi, serangan juga terjadi di lingkungan al-Tuffah, timur Gaza, yang mengakibatkan sejumlah warga terluka. Jet Israel juga dikabarkan menyerang Jalan al-Jalaa dan dua lokasi di timur kamp Bureij, meski tak ada korban jiwa yang dilaporkan di titik tersebut.
Tak berhenti di situ. Sebuah laporan koresponden Anadolu menyebutkan, gedung administrasi kamp Ghaith yang menampung ratusan pengungsi, di dekat Al-Ribat College, juga tidak luput dari serangan udara.
Kembali ke pernyataan resmi, Kemlu menambahkan sebuah catatan penting tentang konsekuensi jangka panjang. Pelanggaran sepihak seperti ini, selain memperburuk penderitaan warga sipil, juga dinilai merusak fondasi kepercayaan dan menghambat upaya mencari stabilitas serta penyelesaian politik yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
Ini bukan kali pertama. Catatan menunjukkan, ini adalah pelanggaran gencatan senjata yang kesekian kalinya dilakukan oleh militer Israel sejak kesepakatan itu mulai berlaku Oktober lalu. Suasana di Gaza kembali mencekam, dan harapan untuk perdamaian terasa semakin menjauh.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun