Mudik atau perjalanan jauh di bulan Ramadan memang memberikan keringanan. Ya, musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Tapi, ada etika yang perlu dijaga, lho.
Menurut informasi dari Kementerian Agama, sebaiknya mereka yang memilih berbuka tidak makan dan minum secara terbuka di depan orang yang sedang menahan lapar dan haus. Ini soal menjaga perasaan dan kehormatan ibadah orang lain.
Dasar hukumnya jelas, tertuang dalam Surat Al-Baqarah ayat 185. Di situ dijelaskan, bagi orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan, boleh saja tidak puasa. Kewajibannya tinggal diganti di hari lain setelah Ramadan berlalu.
Namun begitu, kalau kondisi badan masih kuat, tetap berpuasa saat di perjalanan itu punya nilai lebih. Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, menegaskan hal ini.
"Kalau seseorang masih mampu berpuasa saat mudik, ya itu lebih baik. Ada keutamaannya," ujarnya.
Pernyataan beliau juga punya landasan kuat. Riwayat hadis dari Abu Darda, yang dicatat oleh Imam Bukhari dan Muslim, mengisahkan suatu perjalanan yang sangat terik. Saat itu, hampir semua orang memilih berbuka. Hanya Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah yang tetap berpuasa.
Jadi, pilihan akhirnya kembali ke diri masing-masing. Perhatikan betul kondisi fisik.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Anggota DPR: Gelombang Mudik Lebaran Dongkrak Ekonomi Daerah Ratusan Triliun