Rinciannya menyayat hati. Di lingkungan Rimal, Gaza barat, sebuah apartemen tempat tinggal dihantam. Lima nyawa melayang tiga anak dan dua perempuan. Beberapa lainnya terluka, menurut sumber medis yang berbicara kepada Anadolu.
Tragedi lain terjadi di barat laut Khan Younis. Sebuah tenda penampungan pengungsi di daerah Asdaa menjadi sasaran. Tujuh orang dari satu keluarga tewas: seorang pria, tiga putranya, dan tiga cucunya yang masih kecil. Informasi ini datang dari paramedis di Rumah Sakit Nasser setempat.
Menurut sejumlah saksi, serangan juga terjadi di lingkungan al-Tuffah, timur Gaza, yang mengakibatkan sejumlah warga terluka. Jet Israel juga dikabarkan menyerang Jalan al-Jalaa dan dua lokasi di timur kamp Bureij, meski tak ada korban jiwa yang dilaporkan di titik tersebut.
Tak berhenti di situ. Sebuah laporan koresponden Anadolu menyebutkan, gedung administrasi kamp Ghaith yang menampung ratusan pengungsi, di dekat Al-Ribat College, juga tidak luput dari serangan udara.
Kembali ke pernyataan resmi, Kemlu menambahkan sebuah catatan penting tentang konsekuensi jangka panjang. Pelanggaran sepihak seperti ini, selain memperburuk penderitaan warga sipil, juga dinilai merusak fondasi kepercayaan dan menghambat upaya mencari stabilitas serta penyelesaian politik yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
Ini bukan kali pertama. Catatan menunjukkan, ini adalah pelanggaran gencatan senjata yang kesekian kalinya dilakukan oleh militer Israel sejak kesepakatan itu mulai berlaku Oktober lalu. Suasana di Gaza kembali mencekam, dan harapan untuk perdamaian terasa semakin menjauh.
Artikel Terkait
Capgemini Lepas Anak Usaha AS Usai Ditekan Parlemen Prancis Soal Kontrak ICE
Interpol Indonesia Ungkap Tim Sudah Bergerak ke Negara Persembunyian Riza Chalid
Persija Jakarta Di Ambang Rekrut Penyerang Muda Belanda, Mauro Zijlstra
Bogor Diguncang Tanah Bergerak, Sebelas Rumah Retak