Semua mata tertuju pada Federal Reserve minggu ini. Rapat kebijakan moneter mereka yang pertama di tahun 2026 digelar Selasa dan Rabu, dan prediksi mayoritas analis cukup jelas: suku bunga bakal dipertahankan. Tidak naik, tidak juga turin.
Jerome Powell, sang Ketua The Fed, sudah lebih dulu memberi sinyal jeda. Padahal, sejak September tahun lalu, mereka sudah tiga kali berturut-turut memangkas suku bunga, menurunkannya ke kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Pemicunya waktu itu adalah pelemahan di pasar tenaga kerja.
Tapi situasinya sekarang beda. Laporan-laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, pasar saham yang mendekati rekor tertinggi, dan angka pengangguran yang rendah. Inflasi? Masih bertengger di atas target yang mereka harapkan.
"Semua faktor itu menunjukkan perlunya jeda," begitu analis ING menyimpulkan.
Namun begitu, tekanan politik tetap menjadi bayang-bayang yang tak bisa diabaikan. Presiden Donald Trump secara terbuka dan berulang kali menyatakan ketidaksukaannya pada Powell, bahkan mempertanyakan kompetensi dan integritasnya. Trump mendesak agar suku bunga diturunkan lebih sering.
Powell pun tak tinggal diam. Ia membela habis-habisan independensi bank sentral. Tanggapan kerasnya itu disebut-sebut sebagai reaksi atas tekanan berkelanjutan dari Gedung Putih.
Artikel Terkait
Potensi Rp 42 Triliun, Pasar Game Indonesia Masih Dikuasai Produk Asing
Sriwijaya Capital Suntik Rp 300 Miliar ke SESNA untuk Proyek Raksasa di Sulawesi
Musim Hujan Tiba, Ini Asupan yang Harus Dikonsumsi dan Dihindari
PDIP Tegaskan: Pemilihan Kapolri Harus Tetap Lewat Parlemen