Semua mata tertuju pada Federal Reserve minggu ini. Rapat kebijakan moneter mereka yang pertama di tahun 2026 digelar Selasa dan Rabu, dan prediksi mayoritas analis cukup jelas: suku bunga bakal dipertahankan. Tidak naik, tidak juga turin.
Jerome Powell, sang Ketua The Fed, sudah lebih dulu memberi sinyal jeda. Padahal, sejak September tahun lalu, mereka sudah tiga kali berturut-turut memangkas suku bunga, menurunkannya ke kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Pemicunya waktu itu adalah pelemahan di pasar tenaga kerja.
Tapi situasinya sekarang beda. Laporan-laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, pasar saham yang mendekati rekor tertinggi, dan angka pengangguran yang rendah. Inflasi? Masih bertengger di atas target yang mereka harapkan.
"Semua faktor itu menunjukkan perlunya jeda," begitu analis ING menyimpulkan.
Namun begitu, tekanan politik tetap menjadi bayang-bayang yang tak bisa diabaikan. Presiden Donald Trump secara terbuka dan berulang kali menyatakan ketidaksukaannya pada Powell, bahkan mempertanyakan kompetensi dan integritasnya. Trump mendesak agar suku bunga diturunkan lebih sering.
Powell pun tak tinggal diam. Ia membela habis-habisan independensi bank sentral. Tanggapan kerasnya itu disebut-sebut sebagai reaksi atas tekanan berkelanjutan dari Gedung Putih.
Bahkan, konflik ini merambah ke ranah hukum. Pada 11 Januari lalu, Powell mengungkap bahwa ia sedang diselidiki Departemen Kehakiman terkait proyek renovasi kantor pusat The Fed yang menelan biaya fantastis, 2,5 miliar dolar AS. Ia mengecam keras ancaman tuntutan pidana itu, menyebutnya sebagai akibat dari kebijakan yang dibuat untuk kepentingan publik, bukan untuk menyenangkan presiden.
Trump tak hanya menyasar Powell. Upaya untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook juga sedang ia kejar, memicu pertarungan hukum yang berpotensi mengubah peta kekuasaan. Intinya: seberapa besar kewenangan seorang presiden untuk mengubah pimpinan The Fed?
Secara hukum, presiden hanya bisa memecat anggota dewan gubernur "karena alasan tertentu" biasanya diartikan sebagai pelanggaran atau kelalaian tugas berat. Tapi administrasi Trump sepertinya ingin menafsirkan klausa itu lebih longgar, dengan mendasarkan pemecatan Cook pada tuduhan penipuan hipotek yang dibantahnya sendiri.
Mahkamah Agung baru saja mendengarkan argumen soal kasus ini pekan lalu. Pasca persidangan, Cook menegaskan kembali pentingnya menjaga The Fed dari intervensi politik.
Di tengah semua keributan politik itu, analis melihat dilema The Fed justru agak mereda. Michael Pearce dari Oxford Economics bilang, data terkini membuat mereka sedikit lega.
"Risiko terhadap pasar tenaga kerja tampaknya kurang mendesak dibanding beberapa bulan lalu. Di sisi lain, ancaman kenaikan inflasi juga terlihat mereda," ujarnya dalam sebuah catatan analisis.
Jadi, sementara drama politik masih berlangsung, keputusan untuk menahan suku bunga di pertemuan kali ini tampaknya sudah menjadi konsensus. The Fed mencoba tetap fokus pada data ekonomi, meski hiruk-pikuk dari Washington terus menggema.
Artikel Terkait
Operasional Haji 1447 H Hari Ketujuh: 34.657 Jamaah Diberangkatkan, Kendala Teknis Dua Pesawat Ditangani
Presiden Prabowo Prihatin Atas Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi, 7 Tewas
Presiden Prabowo Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, 7 Tewas dan 81 Luka-luka
Korban Tewas Kecelakaan KA Argo Bromo di Bekasi Bertambah Jadi 7 Orang, 81 Luka-Luka