ujarnya. Teknologi yang dimaksud cukup canggih, mulai dari Automated Guided Vehicle (AGV), forklift autopilot, hingga sistem manajemen gudang otomatis. Bahkan, fasilitas pengolahan limbah cairnya pun dirancang untuk mendaur ulang air, sehingga bisa dipakai kembali dalam proses produksi. Cukup hemat dan ramah lingkungan.
Lalu, bagaimana dengan pasokan bahan baku susu segarnya? Ternyata, Ultrajaya juga punya persiapan di hulu. Perusahaan ini mengelola dua peternakan sapi perah di Bandung dan Sumatera Utara, dengan populasi sekitar 7.000 ekor. Mereka bahkan berencana menambah lagi 4.000 ekor. Upaya ini jelas untuk memperkuat pasokan dari dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor.
Ke depan, Kemenperin berencana mendorong Ultrajaya lebih jauh. Salah satunya dengan mengajak perusahaan ini mengikuti seleksi National Lighthouse Industry 4.0. Tujuannya, jadi percontohan industri susu berbasis teknologi dan otomasi. Sebelumnya, Kemenperin sudah mulai dengan mendigitalisasi Tempat Penampungan Susu (TPS) demi menjaga kualitas susu segar dari peternak.
Jadi, lewat kombinasi investasi besar, penerapan teknologi mutakhir, dan kolaborasi erat dengan peternak lokal, pemerintah optimis. Industri pengolahan susu nasional diharapkan tak hanya mendukung ketahanan pangan, tapi juga menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis untuk jangka panjang. Semoga saja.
Artikel Terkait
Hujan Ringan Guyur Sebagian Jakarta, Wilayah Lain Cenderung Berawan
Gempa Dangkal Magnitudo 3,9 Guncang Buton Utara
Chery Siapkan Kejutan: Pickup Diesel CSH Siap Guncang Pasar 2026
Malam Ini, Timnas Futsal Indonesia Hadapi Ujian Berat Lawan Korea Selatan