Menyongsong Ramadan 2026, pemerintah sudah mulai bersiap. Kali ini, fokusnya jelas: menjaga stok dan menstabilkan harga bahan pokok. Andi Amran Sulaiman, yang merangkap jabatan sebagai Kepala Bapanas dan Menteri Pertanian, mengaku telah menyusun sejumlah strategi untuk menghadapi momen yang kerap jadi ujian ketahanan pangan nasional ini.
“Ini perintah Bapak Presiden. Stabilkan harga. Titik.”
Begitu tegas Amran mengutip arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Perintah itu, katanya, diberikan sebelum sang presiden bertolak ke luar negeri. Intinya, pemerintah wajib memastikan harga eceran tertinggi (HET) untuk sejumlah komoditas pangan dipatuhi, mulai sekarang hingga Ramadan dan Lebaran usai.
Di sisi lain, langkah stabilisasi ini bukan tanpa alasan. Pergerakan harga pangan kerap jadi batu loncatan inflasi, terutama saat hari-hari besar keagamaan seperti Ramadan dan Idulfitri. Karena itu, pengawasan akan diperketat di seluruh rantai pasokan. Satgas Pangan Polri pun siap diturunkan untuk menindak tegas pelaku usaha yang bandel.
“Tidak ada boleh pengusaha seluruh Indonesia menjual di atas HET,” tegas Amran. “Kalau ada, Satgas Pangan Polri akan bekerja, bila perlu menindaknya. Sudah lama kita imbau-imbau. Jadi, tidak ada lagi kesempatan.”
Selain penegakan aturan harga, upaya lain yang akan digencarkan adalah program intervensi pasar. Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) akan dijalankan untuk langsung menyentuh tingkat konsumen. Targetnya sederhana: menekan laju inflasi yang biasanya merangkak naik di awal puasa.
Mengapa waspada? Data Badan Pusat Statistik (BPS) bisa jadi gambaran. Awal Ramadan tahun lalu, inflasi umum bulanan sempat menyentuh 1,65 persen angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Meski begitu, secara khusus inflasi pangan (volatile food) selama Ramadan dan Lebaran dalam kurun waktu sama masih terbilang wajar, yakni di bawah 3 persen per bulan.
Ambil contoh, pada Ramadan 2022 inflasi pangan tercatat 2,30 persen, lalu Ramadan 2023 hanya 0,29 persen. Polanya berubah di 2024, naik 2,16 persen saat puasa tapi berbalik deflasi 0,31 persen di bulan April. Tahun 2025, inflasi pangan Ramadan mencapai 1,96 persen, kemudian turun tipis menjadi deflasi 0,04 persen di bulan berikutnya.
Nah, untuk menyambut Ramadan 2026, inflasi pangan terakhir tercatat 2,74 persen pada Desember 2025. Angka ini jelas jadi perhatian. Maka, dua langkah utama pun disiapkan: memperkuat intervensi dan memperketat pengawasan.
Menurut Amran, kebijakan menjaga HET serta harga acuan pembelian dan penjualan itu punya pondasi yang kuat. Pasalnya, stok pangan nasional saat ini dalam kondisi sangat baik. “Alhamdulillah stok kita, pangan strategis, beras, hari ini 3,3 juta ton,” ujarnya. “Ini tertinggi stok akhir tahun sepanjang sejarah. Minyak goreng juga tersedia. Jadi ini juga tidak ada alasan untuk naik.”
Dengan stok melimpah dan pengawasan ketat, pemerintah berharap Ramadan tahun depan bisa berjalan lancar tanpa gejolak harga yang berarti. Rakyat pun bisa beribadah dengan tenang.
Artikel Terkait
Kanselir Jerman Kecam AS dan Israel karena Meremehkan Kekuatan Iran
Transjakarta Sediakan Shuttle Gratis untuk Penumpang KRL Terdampak Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Lima Tim Kuda Hitam yang Siap Jadi Kejutan di Piala Dunia 2026
Wagub Jakarta Rano Karno Melayat Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, Pastikan Bantuan Pemprov Mengalir