Lalu, apa penyebabnya? Menurut sejumlah saksi dan survei yang beredar, alasannya klasik tapi sangat kuat: biaya hidup. Banyak keluarga muda yang mengeluhkan mahalnya biaya pengasuhan dan pendidikan anak. Tekanan ekonomi itu jadi hambatan serius bagi mereka yang ingin punya momongan.
Ada juga faktor budaya yang diduga ikut berperan. Tahun lalu, 2025, adalah tahun ular dalam penanggalan China. Dalam kepercayaan setempat, tahun ular sering dianggap kurang baik untuk memiliki anak. Meski terdengar tradisional, keyakinan semacam ini masih mempengaruhi keputusan banyak pasangan.
Gabungan antara beban finansial yang berat dan faktor sosio-kultural tampaknya terus mendorong angka kelahiran China ke titik nadir. Situasinya kompleks, dan solusinya tidak akan sederhana.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas