Purbaya juga berusaha meredam kekhawatiran. Dia menjamin independensi Bank Indonesia takkan terganggu. Mekanisme di BI, tegasnya, bersifat kolektif kolegial. Jadi, satu orang takkan bisa mendikte keputusan.
"Kebijakan moneter, kebijakan fiskal, sektor, semuanya kita jalankan. Selama ini kan cuman sinergi ke arah yang lebih bagus kan? Kalau itu bukan intervensi, kerja sama," ujar Purbaya.
Intinya, kehadiran Thomas di BI atau kemungkinan masuknya Juda Agung ke pemerintahan, sama sekali bukan untuk menarik bank sentral ke politik praktis. Justru sebaliknya.
"Jadi kita akan jaga independensi Bank Sentral dengan Pemerintah semaksimal mungkin. Saya enggak perlu uang Bank Sentral untuk itu (program pemerintah). Kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup baik," tegasnya.
Nah, sekarang tinggal eksekusinya. Wacananya sudah jelas, optimisme pun mengemuka. Tinggal kita lihat, apakah langkah ini benar-benar bisa menjadi perekat yang dibutuhkan antara dua otoritas penting ini. Semoga.
Artikel Terkait
Laporan Pajak 2025 Baru Tembus 372 Ribu, Aktivasi Akun Digital Justru Tembus 12 Juta
Bupati Pati Ditangkap KPK, Klaim Dikorbankan dalam Kasus Perangkat Desa
Damai Hari Lubis Pertanyakan Status Tersangka: Ini Berbau Politis!
Markas UNRWA di Yerusalem Timur Diratakan, Israel Dituding Langgar Hukum Internasional