Purbaya juga berusaha meredam kekhawatiran. Dia menjamin independensi Bank Indonesia takkan terganggu. Mekanisme di BI, tegasnya, bersifat kolektif kolegial. Jadi, satu orang takkan bisa mendikte keputusan.
"Kebijakan moneter, kebijakan fiskal, sektor, semuanya kita jalankan. Selama ini kan cuman sinergi ke arah yang lebih bagus kan? Kalau itu bukan intervensi, kerja sama," ujar Purbaya.
Intinya, kehadiran Thomas di BI atau kemungkinan masuknya Juda Agung ke pemerintahan, sama sekali bukan untuk menarik bank sentral ke politik praktis. Justru sebaliknya.
"Jadi kita akan jaga independensi Bank Sentral dengan Pemerintah semaksimal mungkin. Saya enggak perlu uang Bank Sentral untuk itu (program pemerintah). Kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup baik," tegasnya.
Nah, sekarang tinggal eksekusinya. Wacananya sudah jelas, optimisme pun mengemuka. Tinggal kita lihat, apakah langkah ini benar-benar bisa menjadi perekat yang dibutuhkan antara dua otoritas penting ini. Semoga.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas