Dalam upaya membangun kawasan transmigrasi yang lebih mandiri, pemerintah punya rencana cukup ambisius. Mereka menargetkan seribu penerima beasiswa magister untuk turun langsung ke lapangan. Lokasinya tersebar di 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Yang menarik, program ini juga menyasar lulusan dari kampus-kampus yang menerapkan sistem belajar full online.
Rancangan ini bagian dari program 'Transmigrasi Patriot 2026'. Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi, Edy Gunawan, program ini menggabungkan Tim Ekspedisi Patriot dengan Beasiswa Patriot S2. Tujuannya jelas: membentuk kawasan transmigrasi yang produktif dan mandiri secara ekonomi, tentu saja dengan basis riset yang aplikatif.
"Di tahun 2026, ditargetkan sebanyak 1.000 awardee beasiswa magister akan menempuh pendidikan selama 18 bulan, termasuk melakukan penelitian tesis dan pengabdian langsung di 154 kawasan transmigrasi seluruh Indonesia,"
Ujar Edy dalam acara wisuda Universitas Siber Asia (UNSIA) yang digelar Minggu lalu. Kehadiran kementeriannya di acara itu bukan tanpa alasan. Ini sekaligus mempertegas komitmen mereka untuk mempercepat pembangunan nasional, lewat kolaborasi antara dunia akademik dan teknologi digital.
Acara wisuda UNSIA sendiri berlangsung secara hybrid. Dari total 879 lulusan, 367 orang hadir langsung di lokasi. Sisanya, sekitar 495 orang, terhubung secara daring dari berbagai penjuru dunia mulai dari Malaysia, Taiwan, hingga Arab Saudi. Ini bukti nyata bahwa pendidikan jarak jauh memang bisa tanpa batas.
Artikel Terkait
Hujan Deras Lumpuhkan 82 Perjalanan Kereta, Lintasan di Semarang dan Jakarta Terendam
Gunung Sunda Purba: Dari Puncak Putih hingga Jejak Kulit Cerah di Tanah Pasundan
Pemulihan Pascabencana Sumatera: Padat Karya Digenjot untuk Hidupkan Kembali Perekonomian Warga
Hujan Tak Henti, Ratusan Perjalanan KA di Jawa Terkubur Banjir