Buat kebanyakan anak muda, investasi emas itu kesannya kuno banget. Bayangin aja, orang tua atau nenek kita dulu nabung pelan-pelan, beli perhiasan atau koin, terus disimpan di lemari kayu berlapis kunci. Gak heran kalau sekarang banyak dari kita yang dapat 'warisan' berupa emas fisik itu.
Namun begitu, emas sebenarnya gak pernah kehilangan pesonanya. Cuma, ya, harus bisa beradaptasi dengan zaman. Yos Iman Jaya Dappu, Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian, bilang generasi sekarang punya karakteristik yang berbeda. Mereka maunya semuanya serba mudah dan cepat, bisa diakses lewat gadget. Sandang, pangan, papan? Sekarang ditambah satu: aplikasi di ponsel. Itu udah jadi kebutuhan primer.
"Anak muda Gen Z ini sudah terbiasa dengan sesuatu yang accessible. Dan accessible-nya ada di mana? Ada di ujung jarinya,"
ujar Yos dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu.
Nah, karena itu Pegadaian melakukan gebrakan. Mereka bawa investasi emas yang konvensional itu masuk ke dunia digital lewat aplikasi. Intinya, semua proses yang dulu harus ke cabang dan antre berjam-jam, sekarang bisa dilakukan sambil rebahan di rumah. Praktis banget.
Di sisi lain, Yos menekankan soal modal. Ini nih yang bikin anak muda makin tertarik. Berinvestasi emas digital gak perlu modal gede-gede amat.
"Dari Pegadaian, (generasi muda) bisa mulai dengan nominal yang paling kecil. Mulainya dengan Rp10.000 saja sudah bisa menabung emas. Dan yang paling penting adalah mudah karena tidak perlu antre,"
katanya.
Tapi, jalan investasi itu gak selalu mulus. Yos ngeliat ada fenomena psikologis yang lucu sekaligus bikin geleng-geleng kepala. Pas harga emas naik drastis, orang-orang langsung heboh beli karena takut ketinggalan momen atau FOMO. Sebaliknya, saat harganya melemah, malah muncul rasa ragu dan takut ada pilihan lain yang lebih baik istilah kerennya FOBO. Padahal, menurut Yos, cara pikir kayak gitu justru salah kaprah dalam investasi jangka panjang seperti emas.
"Ketika harga turun, orang malah ragu dan FOBO. Bingung mikir, Jual enggak ya? Ini harga entar naik lagi enggak ya?"
Dia pun kasih analogi yang gampang dicerna. Coba lihat nilai emas dalam rentang puluhan tahun.
“Ingat bahwa emas 1 kilogram berpuluh tahun yang lalu, nilainya itu setara dengan motor Honda Astrea. Tapi dengan emas yang sama, beratnya tetap 1 kilogram, sekarang nilainya bisa untuk membeli mobil,"
paparnya.
Dulu, sekitar dua dekade silam, harga emas per gram cuma sekitar Rp90 ribu. Sekarang? Melambung tinggi. Emas terbukti jadi instrumen yang tangguh untuk melawan inflasi dalam jangka panjang. Tapi, ingat pesannya: emas bukan untuk trading harian yang dikejar-kejar fluktuasi kecil.
"Memang benar tidak ada harga yang naik terus-menerus tanpa adanya fluktuasi naik-turun. Namun, jika ditarik dalam garis waktu yang panjang, tren harga emas selalu menunjukkan grafik yang menanjak. Jadi, emas itu jangan dilihat sebagai trading harian. Lihatlah tren jangka panjangnya,”
tutup Yos.
Jadi, gimana? Emas bukan cuma warisan yang diam di lemari. Dia bisa jadi teman investasi yang cerdas buat generasi sekarang, asal paham caranya.
Artikel Terkait
Air Kelapa Disebut Bantu Jaga Kelembapan dan Cegah Penuaan Dini pada Kulit
Dzulqadah, Bulan Haram yang Menyimpan Sejarah Penting Umat Islam
The Strokes Tampilkan Tokoh Korban Intervensi Asing di Panggung Coachella
Menaker Dorong Pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga