Syahganda Nainggolan: Hanya Soekarno dan Prabowo yang Punya Ideologi Kuat

- Jumat, 06 Maret 2026 | 01:15 WIB
Syahganda Nainggolan: Hanya Soekarno dan Prabowo yang Punya Ideologi Kuat

Di Aula Barat ITB, Kamis lalu, suasana cukup hangat. Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, baru saja meluncurkan bukunya yang berjudul "Menggugat Republik". Acara itu digabung dengan seminar nasional bertajuk "Prabowonomics, Demokrasi dan Arah Republik ke Depan". Nah, di situlah ia menyampaikan pandangan yang cukup menarik perhatian.

Menurut Syahganda, dalam sejarah panjang Indonesia, cuma dua presiden yang punya ideologi kuat dan benar-benar melekat. Dua nama itu adalah Soekarno dan Prabowo Subianto.

Ia bercerita panjang lebar soal awal mula perjalanannya. Semuanya berawal dari gerakan mahasiswa di ITB, tempat ia kuliah dulu. Lingkungan aktivis kampus itulah yang menanamkan semangat perlawanan untuk bangsa. Semangat itu, katanya, tak pernah padam.

"Perjuangan tersebut masih relevan hingga saat ini," ujar Syahganda.

Ia menggambarkan, para aktivis era itu punya nyali besar. Mereka menegakkan kebenaran meski dihadapkan pada berbagai risiko. Sebagai contoh, ia menyebut kisah Jumhur Hidayat yang tetap berjuang meski keluarganya tertekan ayahnya, yang waktu itu calon Dirut Bapindo, malah dipenjara.

Gerakan mahasiswa kala itu juga menjalar ke kampus lain, seperti Unpad. Bersama-sama, mereka membangun jaringan gerakan sosial yang luas, mulai dari isu buruh hingga persoalan rakyat kecil.

Lalu, bagaimana dengan dua tokoh yang disebutnya paling ideologis itu? Soekarno, di mata Syahganda, adalah sosok yang sejak muda sudah membangun nasionalisme kokoh sebagai dasar perjuangan. Gagasan-gagasannya menjadi fondasi bagi bangsa ini. Tapi, ada catatan. Menurutnya, saat memasuki akhir kepemimpinan, pendekatan Bung Karno mulai bergeser ke arah yang lebih pragmatis.

Di sisi lain, Prabowo Subianto dinilainya sebagai sosok yang konsisten memegang teguh garis nasionalisme itu hingga sekarang. Konsistensi itu terlihat dari berbagai gagasannya tentang kedaulatan negara, ekonomi nasional, dan tentu saja, keberpihakan pada rakyat. Pandangan-pandangan inilah yang kemudian ia tuangkan dalam bukunya, yang sebagian justru ditulis saat ia mendekam di penjara.

Acara peluncuran buku itu sendiri ramai dihadiri sejumlah tokoh. Tampak hadir Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, dan Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat. Tak ketinggalan, pengamat politik Rocky Gerung, sejumlah anggota DPR, Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, hingga figur publik Raffi Ahmad turut memadati aula.

Jadi, begitulah kira-kira. Lewat buku dan seminar itu, Syahganda seakan ingin mengingatkan kembali tentang pentingnya fondasi ideologi dalam kepemimpinan nasional. Sebuah refleksi dari seorang aktivis yang perjalanannya dimulai dari kampus, dan kini menuangkan pikirannya dalam tulisan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar