Menkeu Sebut Pelemahan IHSG dan Rupiah Akibat Persepsi Negatif, Bukan Fundamental Ekonomi

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:45 WIB
Menkeu Sebut Pelemahan IHSG dan Rupiah Akibat Persepsi Negatif, Bukan Fundamental Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini lebih disebabkan oleh persepsi negatif terhadap perekonomian nasional, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut Purbaya, kondisi fundamental ekonomi dalam negeri saat ini masih terjaga dengan baik. Ia merujuk pada kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tetap kuat serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah yang masih menunjukkan pertumbuhan positif. “Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar. Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita kemana-mana semuanya ekonomi activity meningkat. Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh,” ujar Purbaya di Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.

Sementara itu, pemerintah berkomitmen untuk memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia guna menghilangkan persepsi negatif yang berkembang di pasar. Langkah ini dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional. “Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin lagi,” katanya.

Di sisi lain, Purbaya melaporkan bahwa realisasi belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Belanja negara tetap tumbuh 34,4 persen. Bagus, artinya sesuai dengan target ya, kita selalu ingin mempercepat belanja mencapai Rp1.365,4 triliun,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.

Secara rinci, belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6 persen dari pagu APBN. Realisasi belanja pemerintah pusat tercatat tumbuh 52,6 persen secara tahunan, menandakan bahwa serapan anggaran berjalan sesuai rencana dan mendukung aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar