Di tengah ketegangan yang terus memanas, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, justru menyampaikan sikap yang terkesan dingin. Ia mengaku sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman invasi darat dari Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, komentar pedas datang dari Presiden AS Donald Trump, yang menyebut rencana semacam itu hanya akan membuang-buang waktu saja.
Menurut sejumlah saksi, pernyataan tegas Araghchi ini disampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC News, langsung dari Teheran pada Kamis lalu. Wawancara itu kemudian dilaporkan oleh Press TV keesokan harinya. Intinya jelas: Iran menolak dikait-kaitkan dengan rasa takut.
"Tidak, kami justru menunggu kedatangan mereka,"
begitu jawab Araghchi ketika ditanya tentang kekhawatiran akan serbuan pasukan darat AS. Nadanya datar, tapi penuh keyakinan.
Dia melanjutkan dengan peringatan keras. Menurutnya, invasi semacam itu bukanlah ancaman bagi Iran, melainkan sebuah bencana yang akan menimpa AS sendiri. Persiapan sudah matang, dan Iran siap menghadapi kedua negara itu.
"Kami yakin bisa melawan. Dan itu akan berakhir buruk untuk mereka,"
ujarnya lagi, mempertegas sikap.
Komentar-komentar keras ini tentu bukan muncul dari ruang hampa. Latar belakangnya adalah peperangan yang meluas setelah agresi besar-besaran AS dan Israel yang dimulai akhir pekan lalu. Dalam situasi panas itu, Araghchi menegaskan bahwa Iran sama sekali belum mengangkat tangan untuk meminta gencatan senjata. Komitmen untuk melawan agresi, katanya, tetap bulat.
Ia pun menyentil memori tentang perang singkat nan sengit selama dua belas hari di bulan Juni tahun lalu. Saat itu, fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran. Namun yang menarik, Araghchi mengklaim bahwa pihak yang akhirnya memohon gencatan senjata justru adalah Israel.
"Kami waktu itu bahkan tidak meminta berhenti. Justru Israel yang minta, setelah dua belas hari kami balas serangan mereka,"
tuturnya, menyiratkan bahwa sejarah bisa terulang.
Artikel Terkait
Rekonstruksi Ungkap Kronologi Pembunuhan Mantan Istri oleh THA di Tangerang
BREN dan DSSA Anjlok Lagi, Tertekan Aturan Baru BEI Soal Kepemilikan Saham
Polwan Iptu Juani Ubah Kawasan Mal Narkoba di Tarakan Jadi Kampung Tematik
IDF Hukum Dua Prajurit yang Hancurkan Patung Yesus di Lebanon