Rabu (22/4/2026) lagi-lagi jadi hari yang berat untuk dua saham big cap. Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) kembali terperosok, melanjutkan tren penurunan yang sudah dimulai sehari sebelumnya. Rupanya, tekanan belum juga reda.
Di papan perdagangan, angka-angka merah terpampang jelas. BREN tercatat anjlok 7,53% ke level Rp5.500 per saham. Sementara itu, posisi DSSA bahkan lebih parah, ambles hampir 9% ke Rp2.530. Nilai transaksinya pun besar, menunjukkan ada aksi jual yang cukup masif dari investor.
Lantas, apa pemicunya? Ternyata, ini berhubungan dengan langkah tegas Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa baru-baru ini mengubah aturan main. Mereka bersiap mencoret saham-saham dengan kepemilikan yang terlalu terpusat atau yang biasa disebut high shareholding concentration (HSC) dari daftar calon konstituen indeks IDX80.
Analis dari Stockbit langsung angkat bicara. Menurut mereka, kebijakan BEI ini berpotensi memberi tekanan tambahan yang serius.
“Kami menilai bahwa BREN dan DSSA, saham dalam daftar HSC yang saat ini menjadi konstituen LQ45 dan IDX80, berpotensi keluar pada Mei 2026,” tulis Stockbit dalam laporannya.
Kalau sampai keluar dari indeks utama, dampaknya bisa riil: dana-dana pasif yang melacak indeks tersebut kemungkinan akan melepas saham-saham itu. Alhasil, tekanan jual bisa berlanjut.
Namun begitu, efeknya ternyata tidak hanya berhenti di dua saham itu saja. Stockbit juga menyoroti imbas yang lebih luas.
“Selain kedua saham tersebut, 7 saham lain dalam daftar HSC juga akan terhadang untuk masuk indeks mayor selama masih tercatat di daftar itu,” tambah mereka.
Saham-saham yang dimaksud adalah ROCK, IFSH, SOTS, AGII, MGLV, LUCY, dan RLCO. Jadi, gelombang koreksi ini berpotensi menjalar.
Sebenarnya, penurunan hari Rabu ini seperti deja vu. Sehari sebelumnya, BREN dan DSSA sudah babak belur tersungkur, imbas dari keputusan serupa yang diambil oleh pengelola indeks global, MSCI. Mereka juga akan mencoret saham HSC dari indeksnya. Jadi, serangan datang bertubi-tubi, dari dalam dan luar negeri.
Di sisi lain, perubahan aturan dari BEI ini bukan tanpa alasan. Bursa ingin meningkatkan kualitas dan representasi indeks agar lebih mencerminkan kondisi pasar yang riil. Intinya, saham dengan free float kecil dan kepemilikan yang terlalu menggumpal di satu pihak, dianggap kurang likuid dan kurang mewakili pasar secara sehat.
Ada beberapa penyesuaian teknis lain yang menyertai. Syarat free float minimal dinaikkan jadi 10%. Aturan tentang aktivitas perdagangan juga sedikit dilonggarkan. Yang menarik, semua perubahan ini akan mulai berlaku efektif pada hari bursa pertama di bulan Mei 2026. Waktunya tinggal sebentar lagi.
Jadi, apa yang terjadi hari ini mungkin baru awal. Pasar sedang menyesuaikan diri dengan logika baru. Investor, terutama yang memegang saham-saham dengan struktur kepemilikan serupa, tampaknya perlu mempersiapkan diri untuk volatilitas yang masih mungkin berlanjut.
Setiap keputusan investasi tentu saja ada di tangan Anda. Tulisan ini hanya mencoba menguraikan apa yang sedang terjadi di pasar.
Artikel Terkait
Pasukan Keamanan Pakistan Tewaskan 22 Militan di Khyber, Seorang Anak Ikut Tewas dalam Baku Tembak
Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp129 Juta untuk 47 Penerima Manfaat di Rembang
Pemerintah Targetkan Bedah 15.000 Rumah Tak Layak Huni di 40 Kawasan Perbatasan
Madura United Pilih Fokus pada Diri Sendiri di Tengah Ketatnya Persaingan Zona Degradasi