Dulu, kawasan Selumit Pantai di Tarakan punya reputasi yang suram. Tempat itu dikenal sebagai 'mal narkoba', titik transaksi gelap yang beroperasi nyaris terang-terangan. Lingkungannya kumuh, dan yang paling memilukan, anak-anak setempat sering terlibat dalam pusaran haram itu.
Namun begitu, suasana kelam itu mulai berubah sejak akhir 2024. Perubahan itu dibawa oleh seorang polwan, Iptu Juani Aing. Bersama puluhan rekannya dari Polwan Polres Tarakan, ia memutuskan untuk turun langsung, merangkul anak-anak di pesisir itu agar selamat dari jerat narkoba.
Lurah Selumit Pantai, Andi Arfan, sampai mengusulkan nama Iptu Juani untuk Hoegeng Awards 2026. Baginya, peran polwan itu luar biasa besar dalam mengubah wajah kampungnya.
"Sosoknya ceria dan ramah. Bu Juani suka membantu, baik dengan pemikiran, tenaga, atau materi. Kesungguhannya sangat besar dalam merubah kampung narkoba menjadi kampung tematik warna-warni," ujar Andi.
Ia menceritakan, fokus utama Iptu Juani adalah menyelamatkan generasi muda. Banyak kegiatan digelar. Mulai dari kerja bakti, pengecatan massal rumah warga, perbaikan jalan, hingga pelatihan UMKM beserta bantuan permodalan. Kampung yang dulu tertutup dan sinis, pelan-pulai berubah.
"Beberapa anak ini kan jadi korban lingkungan. Makanya Polres Tarakan turun melalui Bu Juani, termasuk mengasuh beberapa anak. Mereka juga masuk ke TPA Masjid Al Ma'ruf untuk mengajari mengaji," tambah Andi.
Di sisi lain, Andi mengaku awalnya miris. Ia melihat bagaimana anak-anak dimanfaatkan dalam peredaran narkoba. Kehadiran Iptu Juani dan timnya menjadi penawar. "Kalau sekarang, ketika Bu Juani masuk ke daerah tersebut, mereka datang, dipeluk. Ada kehangatan, kayak hubungan orang tua dengan anak," katanya.
Dari Penolakan Hingga Diterima
Jalan yang ditempuh Iptu Juani tak mulus. Awalnya, niat baiknya justru ditolak. Masyarakat Selumit Pantai terkenal tertutup, apalagi terhadap aparat berseragam. Anak-anak pun lari ketakutan melihat polisi.
"Mereka lihat orang asing itu sinis. Apalagi kita pakai seragam lengkap. Mereka tidak berkenan. Bahkan saat adakan kegiatan, mereka tidak mau tahu," kenang Juani saat berbincang.
Tapi dia pantang menyerah. Strateginya sederhana: tunjukkan kepedulian nyata. Setiap hari, Juani dan kawan-kawan Polwan membersihkan sampah yang berserakan di permukiman padat dan kumuh itu. Rumah-rumah panggung di atas sungai yang penuh plastik, pelan-pelan dibersihkan.
Hasilnya, sedikit demi sedikit, hati warga terbuka. Mereka mulai mau bergabung berbenah. Yang paling menggembirakan, anak-anak tak lagi lari ketakutan. Mereka justru mendekat.
"Berjalannya waktu, akhirnya mereka dekat dengan kita. Awalnya memang takut, tapi kita terus merangkul. Dari situ kita tahu kendala yang mereka alami," ujar Juani.
Dari pendataan, terungkap puluhan anak tak sekolah. Ada yang putus sekolah karena biaya, ada juga yang ikut orang tua berpindah-pindah. Mereka kurang perhatian, keluyuran, dan itu membuat mereka rentan.
"Rawan sekali mereka digunakan jadi kurir atau penjual narkoba," ucapnya prihatin. Kekhawatiran itu ternyata benar. Dalam interaksi yang semakin intens, terungkap beberapa anak memang sudah dimanfaatkan sebagai kurir atau mata-mata oleh para pengedar.
Mendengar itu, Juani dan tim makin tergerak. Mereka faskan anak-anak untuk mengaji di Masjid Al Ma'ruf. Antusiasme sekitar 80 anak itu tinggi, meski fasilitas seadanya. Tapi masalah lain muncul: banyak yang tak punya seragam mengaji, sehingga malu dan enggan datang.
Juani pun mencari solusi. Ia menghubungi Baznas Kota Tarakan. Alhamdulillah, bantuan datang. Seragam dan biaya pendaftaran bisa terpenuhi, sehingga anak-anak bisa mengaji dengan tenang.
Dukungan juga datang dari pimpinan. Bahkan, sebuah Warung Kamtibmas dibangun di sana sebagai pusat kegiatan. Tempat itu jadi ruang untuk pelatihan menari, menyanyi, dan beragam kreasi seni lainnya.
"Alhamdulillah, untuk kegiatan narkobanya sendiri lambat laun berkurang drastis. Rutinitas yang dulunya rawan, sekarang bisa dibilang 80% berkurang. Bahkan sampai saat ini di wilayah itu sudah tidak ada," kata Juani dengan nada lega.
Ia berharap upaya ini bisa konsisten berjalan. Dari sebuah 'mal narkoba', Selumit Pantai kini berubah. Warna-warni cat rumah bukan sekadar hiasan, tapi simbol harapan baru yang dicatat oleh seorang polwan dengan kesabaran luar biasa.
Artikel Terkait
Militer Israel Keluarkan Peringatan Evakuasi Mendesak bagi Warga Lebanon Selatan di Tengah Gencatan Senjata
TNI Gelar Latihan Perang Gabungan di Karimunjawa, Menhan Tegaskan Efek Gentar bagi Pengusik Kedaulatan
Macron Perintahkan Perluasan Arsenal Nuklir Prancis, Rusia Bereaksi Keras
Mensos Gus Ipul Resmikan Pelatihan Manajemen untuk Kepala Sekolah dan Guru Sekolah Rakyat