IDF Hukum Dua Prajurit yang Hancurkan Patung Yesus di Lebanon

- Rabu, 22 April 2026 | 10:20 WIB
IDF Hukum Dua Prajurit yang Hancurkan Patung Yesus di Lebanon

Seorang tentara Israel yang terlihat menghancurkan patung Yesus dengan godam di Lebanon akhirnya dihukum. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan, prajurit itu akan mendekam dalam penahanan militer selama 30 hari. Hukuman yang sama juga diterima rekannya yang memotret kejadian itu.

Kedua prajurit, yang namanya tak disebutkan, bakal "dicabut dari tugas tempur." Begitu hasil penyelidikan internal, kata militer. Enam tentara lain yang ada di lokasi tapi diam saja, gagal mencegah atau melaporkan, akan ditangani secara terpisah.

IDF lewat pernyataannya di Selasa (21/04) menyebut penyelidikan telah usai. Mereka menegaskan perilaku para tentara itu "benar-benar menyimpang dari perintah dan nilai-nilai IDF." Tak lupa, mereka menyampaikan "penyesalan mendalam."

Patung yang rusak itu sendiri konon sudah diganti. IDF bilang, penggantian dilakukan "dalam koordinasi penuh dengan komunitas setempat" beberapa waktu silam.

Militer Israel juga berusaha meluruskan tujuan operasinya di Lebanon. Menurut mereka, sasaran adalah "semata-mata" kelompok Hizbullah yang didukung Iran "serta kelompok teroris lain, bukan warga sipil Lebanon."

Foto prajurit itu sedang mengayunkan godam ke patung Yesus di Lebanon selatan memang sempat viral. Kecaman pun berdatangan dari berbagai penjuru dunia maya.

Reaksi datang dari pucuk pimpinan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengaku "terkejut dan sedih" melihat insiden tersebut.

Menteri Luar Negeri Gideon Saar lebih eksplisit.

"Kami meminta maaf atas insiden ini dan kepada setiap umat Kristen yang perasaannya terluka," ujarnya.

Patung itu sendiri berada di sebuah salib di luar rumah keluarga di pinggiran Debel. Warga setempat bercerita, desa itu termasuk sedikit yang masih bertahan saat Israel berperang melawan Hizbullah.

Bukan Kali Pertama

Kepala jemaat Debel, Pastor Fadi Flaifel, punya pendapat keras.

"Kami sepenuhnya menolak penodaan terhadap salib, simbol suci kami, dan semua simbol keagamaan," katanya kepada BBC.

"Ini bertentangan dengan deklarasi hak asasi manusia, dan tidak mencerminkan peradaban," lanjutnya. Dia juga mengklaim tindakan serupa pernah terjadi sebelumnya.

Militer Israel sendiri sudah mengonfirmasi keaslian gambar yang beredar. Mereka memandangnya "dengan sangat serius" dan menekankan perilaku prajurit itu "sama sekali tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diharapkan."

"Langkah-langkah yang tepat" akan diambil terhadap yang terlibat. IDF menambahkan, mereka telah bekerja sama dengan komunitas Kristen untuk "mengembalikan patung tersebut ke tempatnya."

Saat ini, ribuan tentara Israel masih menduduki wilayah Lebanon selatan. Ini terjadi setelah gencatan senjata mulai berlaku pada Jumat (17/04). Gencatan itu menghentikan pertempuran enam pekan antara Israel dan Hizbullah meski kedua pihak masih saling tuduh melanggar.

Gema Kecaman dari AS

Insiden patung Yesus ini sampai memancing komentar Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee. Sebagai pendeta Kristen Protestan, dia menulis di X bahwa "konsekuensi yang cepat, berat, dan terbuka diperlukan."

Para komentator sayap kanan di AS pun ikut bersuara. "Mengerikan," tulis Matt Gaetz, mantan penasihat Donald Trump, saat mengunggah ulang foto itu.

Mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene juga membagikannya. "‘Sekutu terbesar kami’ yang setiap tahun menerima miliaran dolar pajak dan senjata kami," tulisnya pedas.

Komentar-komentar itu seolah mencerminkan tren. Survei terbaru Pew Research Center menyebut 60% orang dewasa AS kini punya pandangan negatif terhadap Israel. Angkanya naik dari 53% tahun lalu.

Pandangan buruk itu menguat karena rangkaian insiden. Bulan lalu, misalnya, kepolisian Israel mencegah pemimpin tertinggi Katolik Roma di Yerusalem masuk ke Gereja Makam Kudus untuk misa Minggu Palma. Alasannya, khawatir soal keamanan selama perang dengan Iran.

Huckabee menyebut hal itu sebagai "tindakan kelewatan yang disayangkan dan berdampak besar." Menurutnya, pembatasan Israel terhadap pemuka agama Kristen "sulit dipahami atau dibenarkan."

Laporan 'Permusuhan Terbuka'

Sebuah laporan tahun 2025 oleh Rossing Center, organisasi di Yerusalem yang fokus pada hubungan lintas agama, menyoroti "lonjakan permusuhan terbuka terhadap Kekristenan." Mereka mengaitkannya dengan "polarisasi yang mendalam dan tren politik ultra-nasionalis yang berlanjut."

Namun, pejabat Israel menepis penilaian itu.

PM Netanyahu berargumen bahwa "populasi Kristen di Israel berkembang tidak seperti di tempat lain di Timur Tengah."

"Israel adalah satu-satunya negara di kawasan di mana populasi Kristen dan standar hidupnya meningkat. Israel adalah satu-satunya tempat di Timur Tengah yang menjunjung kebebasan beribadah bagi semua," tegasnya.

Operasi militer Israel di Lebanon sendiri dimulai pada 2 Maret. Mereka menuding Hizbullah yang memulai dengan menembakkan roket sebagai dukungan kepada Iran. Konflik ini telah memicu pengungsian besar-besaran.

Lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi. Korban tewas di pihak Lebanon, menurut otoritas setempat, lebih dari 2.290 orang termasuk 177 anak dan 100 tenaga kesehatan. Sementara di sisi Israel, 13 tentara dan dua warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan Hizbullah.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar