Di sisi lain, mayoritasnya, yaitu sekitar 70%, adalah serat tidak larut. Fungsinya lebih ke fisik: menambah volume tinja dan menjaga ritme kerja usus tetap sehat. Kombinasi keduanya inilah yang membuat alpukat efektif menunjang pencernaan dari berbagai sisi.
Manfaatnya belum berhenti di situ. Serat dalam alpukat juga berperan sebagai prebiotik alami. Singkatnya, ia adalah makanan untuk bakteri baik di usus kita. Salah satu jenis serat larutnya, pektin, dikenal ampuh menyuburkan mikrobioma usus.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Konsumsi alpukat secara rutin selama beberapa minggu terbukti bisa meningkatkan populasi bakteri baik di usus, terutama pada orang dewasa. Dampaknya tentu positif, bukan cuma untuk pencernaan, tapi juga metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Selain serat, jangan lupakan lemak sehatnya. Alpukat kaya akan lemak tak jenuh tunggal yang baik untuk jantung. Buah ini juga menyimpan gudang nutrisi lain: folat, kalium, vitamin K, E, dan C. Semuanya berkontribusi pada kesehatan tubuh.
Lemak sehat tadi punya peran lain: membantu mengurangi peradangan dan ini yang keren meningkatkan penyerapan nutrisi dari makanan lain yang kita makan bersamaan. Jadi, menambahkan alpukat ke dalam salad bukan cuma soal rasa, tapi juga strategi agar nutrisi sayuran terserap lebih maksimal.
Dengan segudang manfaat tadi, pantas saja alpukat layak dipertimbangkan jadi bagian dari menu harian. Buah ini bukan sekadar tren, tapi investasi sederhana untuk kesehatan pencernaan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Artikel Terkait
Air Bersih Mengalir Kembali, Pengeboran Sumur Genjot Pemulihan Aceh Pascabencana
Dari Piring Sekolah, Kadin Lihat Geliat Ekonomi dan Target 8 Persen
Dustira: Saksi Bisu Sejarah yang Tetap Berdenyut di Cimahi
Airbnb Rekrut Mantan Bos AI Meta untuk Pacu Inovasi Teknologi