Di ruang sidang Dewan Keamanan PBB yang tegang, utusan Rusia melancarkan kecaman pedas. Vassily Nebenzia tak ragu menyebut serangan militer gabungan AS dan Israel ke Iran sebagai sebuah tindakan agresi. Menurutnya, serangan itu dilakukan tanpa provokasi dan jelas-jelas melanggar hukum internasional.
“Tindakan Washington dan Yerusalem Barat tidak lain adalah tindakan agresi bersenjata tanpa provokasi lainnya terhadap negara anggota PBB yang berdaulat dan independen, yang melanggar piagam organisasi dan prinsip-prinsip dasar hukum internasional,” tegas Nebenzia, suaranya terdengar lantang dalam sesi darurat yang digelar Minggu (1/3/2026) itu.
Dia melanjutkan, serangan tersebut dinilai sebagai bentuk campur tangan kasar. Lebih dari itu, kata dia, aksi itu terlihat seperti upaya untuk menghancurkan sebuah negara yang tak disukai oleh Barat. “Ini langkah gegabah,” sindirnya.
“Langkah AS dan Israel yang tidak bertanggung jawab, langkah gegabah, seperti yang telah kami peringatkan sebelumnya, telah menyebabkan peningkatan tajam situasi di seluruh wilayah,” tutur diplomat Rusia itu.
Tak cuma itu, Nebenzia juga menyebut operasi militer ini sebagai pengkhianatan terhadap proses diplomasi. Sebuah tuduhan yang cukup berat di forum PBB.
Di sisi lain, sidang darurat ini sendiri digelar atas permintaan bersama dari beberapa negara. Prancis, Bahrain, China, Rusia, dan Kolombia mendorong diselenggarakannya pertemuan mendesak tersebut.
Namun begitu, ada drama lain di balik layar. Rusia dan China sebelumnya meminta agar Inggris, yang kebetulan sedang menjabat presiden Dewan Keamanan, menggelar sidang dengan agenda khusus tentang “ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional.” Permintaan itu rupanya tak digubris.
“Upaya kepresidenan Inggris untuk secara artifisial mengecilkan tingkat bahaya situasi saat ini sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Nebenzia dengan nada kesal.
Kritiknya tak berhenti di situ. Dia juga menyayangkan sikap kepresidenan Inggris yang dianggapnya mengabaikan permintaan mereka. Rusia dan China ingin Jeffrey David Sachs, seorang ahli dari Universitas Columbia, diundang untuk memberikan pengarahan. Tapi permintaan itu, menurut Nebenzia, “secara terang-terangan” diabaikan.
Artikel Terkait
Kapolda Riau Ajak Masyarakat Jadikan Hari Lahir Pancasila Kompas Moral Jaga Persatuan Bangsa
Tiongkok Kirim Tim Medis Darurat dan Bantuan Kemanusiaan ke Kongo Tangani Wabah Ebola
Remaja 14 Tahun di Palmerah Jadi Korban Pencabulan Pemuda 18 Tahun, Terungkap dari Dompet di Kamar Korban
Kiai dan Akademisi Solo Raya Gelar Halaqah Jelang Muktamar NU ke-35, Soroti Peran Moral Ulama