Pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan pengiriman bantuan medis darurat ke Republik Demokratik Kongo (DRC) untuk membantu penanganan wabah Ebola yang terus meluas di kawasan Afrika tengah. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya jumlah kasus terkonfirmasi dan kekhawatiran akan penyebaran lintas batas yang semakin kompleks.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing pada Senin, 1 Juni 2026, menyatakan bahwa negaranya akan mengirimkan tim ahli medis untuk memberikan layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan secara langsung di lapangan. “Pemerintah Tiongkok telah memutuskan memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC dan mengirim tim ahli medis untuk layanan serta bantuan kesehatan,” ujar Lin.
Selain pengiriman tenaga ahli, Tiongkok juga memberikan dukungan kepada Komisi Uni Afrika dan Africa Centres for Disease Control and Prevention dalam upaya penanganan wabah. Lin menambahkan bahwa lebih dari 45 tim medis Tiongkok telah dikirim ke berbagai negara Afrika dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari komitmen jangka panjang di bidang kesehatan global.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sedikitnya 134 kasus Ebola telah terkonfirmasi dalam wabah terbaru yang melanda DRC dan Uganda. Jumlah korban meninggal akibat virus tersebut di kedua negara mencapai 18 orang. Otoritas kesehatan Kongo mencatat lebih dari 1.000 kasus suspek sejak wabah diumumkan secara resmi pada 15 Mei lalu.
Wabah Ebola strain Bundibugyo saat ini terkonsentrasi di tiga provinsi di timur Kongo, yakni Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Lin memastikan bahwa tim medis Tiongkok kini telah berada di lapangan dan bekerja bersama tenaga kesehatan Afrika untuk menangani penyebaran virus.
Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta negara-negara yang menerapkan pembatasan perjalanan akibat wabah Ebola untuk mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut. Amerika Serikat dan Kanada diketahui telah memberlakukan pembatasan perjalanan dan penangguhan visa bagi warga DRC, Uganda, dan Sudan Selatan. Rwanda dan Uganda, yang berbatasan langsung dengan wilayah wabah, juga membatasi perjalanan dari Kongo.
Artikel Terkait
Konflik AS-Iran Masih Tanpa Titik Terang Tiga Bulan Pasca Serangan Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran
Timnas Indonesia Coret Eliano Reijnders dan Jordi Amat dari Skuad FIFA Matchday Juni 2026
BULOG Benahi Tata Kelola Pabrik Gula GMM demi Petani Tebu Blora
Metode Kakeibo: Teknik Pencatatan Manual dari Jepang untuk Disiplin Menabung dan Mengurangi Belanja Impulsif