Jumat lalu, suasana di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, terasa berbeda. Ruang yang biasa dipadati acara bisnis dan pameran itu justru ramai oleh siswa dan guru. Mereka datang dari berbagai sekolah rakyat se-Tangerang untuk sebuah pertemuan khusus.
Menteri Sosial Syaifullah Yusuf hadir di tengah mereka. Agenda utamanya jelas: mendengarkan langsung dan memberi penguatan. Menurut sejumlah guru yang hadir, pertemuan ini bukan sekadar seremoni belaka. Ada semangat untuk memperkuat solidaritas dan komitmen bersama dalam mengelola sekolah rakyat.
“Ini momen penting bagi kami,” ujar salah seorang pengajar yang hadir.
Ia menambahkan, dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di akar rumput.
Di sisi lain, komitmen itu tak cuma berupa kata-kata. Ada rencana konkret yang digulirkan. Salah satunya adalah perbaikan infrastruktur. Pemerintah berencana membangun gedung permanen untuk sekolah rakyat di 104 titik lokasi. Langkah ini diharapkan bisa menjawab salah satu tantangan terbesar yang selama ini dihadapi: keterbatasan fasilitas belajar yang layak.
Pertemuan di ICE BSD itu, meski singkat, diharapkan bisa jadi pemantik. Setidaknya, ada sinyal bahwa perhatian terhadap pendidikan non-formal mulai mengemuka. Tantangannya tentu masih banyak, mulai dari kualitas pengajaran hingga kesinambungan program. Namun begitu, langkah awal sudah diambil.
Acara yang berlangsung pada 27 Februari itu pun ditutup dengan harapan. Bukan hanya untuk Tangerang, tetapi untuk seluruh sekolah rakyat di Indonesia agar bisa berdiri lebih kokoh ke depannya.
Artikel Terkait
Helikopter dengan 8 Orang di Dalamnya Hilang Kontak di Kalimantan Barat
Polisi Selidiki Penemuan Jasad Perempuan di Rumahnya Sendiri di Serpong
Polisi Bongkar Kasus Penyelundupan Sepatu Adidas dari Pabrik Ekspor, Satu Otak Masih Buron
Jubir KPK Dilaporkan ke Polda Metro Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik