Aroma itu bahasa purba. Jauh lebih tua dari kata-kata. Sebelum ada alfabet, bahkan sebelum konsep-konsep rumit tercipta, kita sudah berkomunikasi lewat hidung. Ia bekerja diam-diam, nyaris licik, langsung menyusup ke kesadaran tanpa minta izin dari akal sehat. Dalam sekejap, kita tersadar: kedaulatan atas diri sendiri ini ternyata ilusi belaka.
Berbeda dengan mata yang bisa kita tutup atau telinga yang bisa kita abaikan, bau itu invasif. Ia menembus batas personal kita dengan mudah, merobohkan tembok otonomi yang kita bangun susah payah. Coba saja, Anda bisa mengatur pikiran, tapi cobalah lawan sebuah tarikan napas yang membawa wewangian tertentu. Tubuh punya pengetahuannya sendiri, dan pengetahuan itu tak peduli dengan logika.
Selama ini, filsafat modern terlanjur jatuh cinta pada logos sambil memandang curiga pada tubuh. Aroma jadi korban utama dari prasangka ini. Padahal, lewat bau-bauanlah kita bertemu dengan apa yang bisa disebut ingatan pra-reflektif. Ingatan jenis ini tak datang lewat narasi yang rapi. Ia datang lewat keterkejutan. Tiba-tiba saja, tanpa struktur yang jelas, seringkali juga tanpa makna yang bisa segera dijelaskan.
Dan ingatan yang dibangkitkan aroma ini tak pernah netral. Selalu ada muatan emosi, atau bahkan luka, yang melekat padanya. Bau tanah usai hujan bisa langsung membawa kita ke sebuah pemakaman di masa kecil yang sudah lama terkubur. Aroma kapur barus tertentu bisa menghidupkan kembali kecemasan yang dulu kita rasakan di kamar sakit. Inilah buktinya: masa lalu itu tak pernah benar-benar pergi. Ia bersembunyi di dalam tubuh, menunggu momen yang tepat untuk muncul kembali.
Fenomena semacam ini jelas menggoyang anggapan kita tentang waktu yang linear dan progresif. Ternyata, waktu tidak melulu bergerak lurus ke depan. Lewat aroma, masa lalu bisa menyelinap ke masa kini dan mengacaukan tatanan kronologis yang rapi. Manusia modern yang bangga dengan efisiensinya seringkali terganggu oleh pengalaman seperti ini. Soalnya, ia tidak produktif. Tidak bisa dikalkulasi. Tidak memberi keuntungan.
Di sinilah aroma menunjukkan sisi pemberontakannya. Ia adalah bentuk perlawanan eksistensial. Aroma menolak untuk direduksi jadi sekadar data. Ia ogah disederhanakan menjadi fungsi belaka. Sebaliknya, ia menuntut kita untuk berhenti sejenak dan benar-benar merasakan. Di dunia yang memuja kecepatan, tuntutan untuk berhenti ini terasa nyaris revolusioner.
Maka, masyarakat modern pun berusaha menjinakkannya. Caranya? Standardisasi. Parfum diproduksi massal dengan wewangian yang seragam dan ‘aman’. Ruang-ruang publik dibersihkan dari bau-bauan yang dianggap mengganggu estetika kota. Bau tubuh direduksi jadi sekadar persoalan kebersihan dan etika semata. Dalam proses penjinakan ini, aroma kehilangan kedalaman maknanya.
Ini bukan cuma soal higienitas. Lebih dari itu, ia adalah proyek ideologis. Dengan menghilangkan bau-bau yang ‘tidak diinginkan’, kita sebenarnya menghapus jejak-jejak kehidupan yang berantakan dan tidak rapi. Bau keringat seorang pekerja. Bau tanah usai diguyur hujan. Aroma rempah dari dapur sederhana. Semua dianggap tak pantas tampil di panggung publik.
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan Senin Ini, Investasi Rp 123 Triliun untuk Hentikan Impor BBM
Dari Truk Dakar hingga Motor Listrik: Wajah Otomotif yang Terus Berubah
Harga Pertamax dan Dexlite Turun, Pertalite Tetap Bertahan
Di Balik Pesona Danau Batur, Ancaman Racun Diam-Diam Mengintai