Rabu pagi yang tenang di perairan Cayo Falcones, Kuba, tiba-tiba pecah oleh suara tembakan. Sebuah kapal cepat yang tercatat berasal dari Florida, AS, telah memasuki wilayah teritorial Kuba dan mendekati pesisir Villa Clara. Ketika kapal patroli perbatasan Kuba mendekat untuk memeriksa, nahas, awak kapal cepat itu justru melepaskan tembakan terlebih dahulu ke komandan patroli.
Baku tembak itu berakhir tragis. Menurut keterangan resmi Kementerian Dalam Negeri Kuba, empat orang tewas dan enam lainnya luka-luka. Pemerintah Havana dengan tegas menyatakan bahwa semua orang di kapal itu adalah warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat. Mereka dituduh punya agenda teror dan berniat masuk secara ilegal.
"Semua yang terlibat adalah warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat," begitu bunyi pernyataan pemerintah.
Dari kapal itu, kata otoritas Kuba, disita senjata, bahan peledak, dan seragam kamuflase. Kesepuluh penumpangnya disebut memiliki catatan kriminal dan kekerasan. Motif pastinya masih diselidiki, tapi narasi dari Havana sudah jelas: ini adalah infiltrasi bersenjata.
Di antara nama-nama yang disebut, ada Amijail Sánchez González dan Leordan Enrique Cruz Gómez. Keduanya disebut sebagai buronan terkait aktivitas terorisme. Lalu ada Conrado Galindo Sariol. Situs berita Martí Noticia, yang berbasis di AS dan getol mengkritik Havana, menyebut Galindo sebagai "legenda" dan mantan tahanan politik.
Dalam sebuah wawancara bulan Juni lalu, Galindo pernah berkomentar keras tentang situasi di Kuba.
"Pemimpin rezim sedang berkeliling ke seluruh Kuba untuk mencoba meredam situasi yang segera memburuk, karena mereka sudah kehilangan kendali dan tidak mampu menghentikannya, mereka mencari cara agar protes tidak menyebar ke daerah lain," ujarnya waktu itu.
Pihak Kuba juga mengklaim telah menangkap seorang bernama Duniel Hernández Santos yang diduga dikirim dari AS untuk mempersiapkan infiltrasi ini. Klaim-klaim ini, tentu saja, belum bisa diverifikasi secara independen.
Di balik statistik korban, ada cerita keluarga yang hancur. Salah satu yang tewas teridentifikasi sebagai Michel Ortega Casanova. Adiknya, Misael, berbicara pada AP di hari yang sama. Suaranya berat, penuh duka.
"Hanya kami orang Kuba yang tinggal di Kuba lah yang mengerti," katanya, menyiratkan penderitaan yang dalam.
Dia menceritakan Michel adalah sopir truk yang sudah lebih dari 20 tahun jadi warga AS. Dia meninggalkan istri, ibu, dua saudara perempuan, dan seorang putri yang sedang hamil. Keluarganya sama sekali tak tahu rencananya.
"Tidak ada yang tahu," ucap Misael. "Ibu sangat terpukul. Mereka begitu terobsesi sehingga tidak memikirkan konsekuensinya atas kehidupan mereka sendiri."
Artikel Terkait
Lapangan Padel di Pulomas Disegel Permanen Lantaran Tak Miliki Izin SLF
Pelatih Panjat Tebing Diduga Lakukan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Fisik terhadap Delapan Atlet
Harga Perak Antam Tembus Rp55.100 per Gram, Lanjutkan Tren Kenaikan
Satpol PP Tunggu Rekomtek Dinas Citata untuk Bongkar 185 Lapangan Padel Ilegal