Pelatih Panjat Tebing Diduga Lakukan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Fisik terhadap Delapan Atlet

- Jumat, 27 Februari 2026 | 11:15 WIB
Pelatih Panjat Tebing Diduga Lakukan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Fisik terhadap Delapan Atlet

JAKARTA – Kabar buruk datang dari dunia olahraga nasional. Seorang pelatih panjat tebing diduga melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap delapan atlet pelatnas. Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden ini. Dia mendesak agar kasusnya diusut tuntas.

"Kasus ini harus diusut secara tuntas dan menjadi perhatian serius semua pihak," tegas Hetifah dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/2/2026).

Di sisi lain, dia mengapresiasi respons cepat yang sudah ditunjukkan. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dan Menpora Erick Thohir dinilainya telah mengambil langkah tepat dengan menonaktifkan sementara sang pelatih dari jabatannya.

Menurut Hetifah, lingkungan pembinaan atlet haruslah aman dan bermartabat. Bebas dari segala bentuk teror.

“Kami memandang penonaktifan sementara Kepala Pelatih FPTI sebagai langkah yang tepat. Kebijakan ini penting untuk melindungi para atlet sekaligus menjaga objektivitas dan kredibilitas proses pemeriksaan,” katanya.

Lebih jauh, politisi ini menegaskan momen ini harus jadi cambuk. Evaluasi menyeluruh sistem perlindungan atlet di semua cabang olahraga mendesak untuk dilakukan.

“Untuk mencegah kasus serupa terulang, perlu penguatan sistem pencegahan melalui regulasi dan standar perlindungan atlet yang jelas, termasuk kode etik pelatih dan ofisial yang mengikat,” ucap Hetifah.

Lalu, bagaimana sang pelatih menanggapi semua tuduhan ini?

Hendra Basir – sang pelatih yang dimaksud – membantah keras tuduhan pelecehan seksual itu. Penonaktifannya sendiri sudah resmi berlaku sejak 9 Februari 2026 lewat Surat Keputusan FPTI Nomor 0209/SKP/PP.NAS/1I/2026. Surat itu menyebut pengaduan datang dari delapan atlet, lima putra dan tiga putri, yang didampingi psikolog saat melapor ke Ketum Yenny Wahid akhir Januari lalu.

Namun begitu, Hendra mengaku merasa dikerdilkan. “Ya saya sampai saat ini kan belum ada undangan atau surat klarifikasi terkait tuduhan dan dugaan penganiayaan dan pelecehan seksual,” keluhnya saat dihubungi Rabu (25/2/2026).

“Jadi silakan ditanyakan ke delapan atlet itu saja. Setahu saya ada lima atlet putra dan tiga atlet putri yang mengadu ke Ibu Ketum,” lanjut dia.

Soal gaya kepelatihannya, Hendra tak menampik. Dia mengaku punya pola yang keras, sebuah karakter yang sudah dibawanya selama 15 tahun melatih.

“Saya sudah 15 tahun melatih. Kalau pola latihannya keras, itu memang gaya dan karakteristik melatih saya,” ucap dia.

Dia bahkan mengakui pernah memberi hukuman fisik. Misalnya, menempeleng dengan sepatu saat atlet dinilai tak menunjukkan performa maksimal di lapangan. “Kalau tidak perform, ada momen tertentu misalnya saya tempeleng pakai sepatu atau apa. Kalau itu disebut kekerasan, saya siap menerima konsekuensinya,” ujarnya blak-blakan.

Tapi untuk tuduhan pelecehan seksual, dia benar-benar tak paham. Menurut pengakuannya, dia hanya pernah memeluk dan mencium kening atlet putri. Itu pun, katanya, dilakukan saat sang atlet sedang terpuruk mentalnya, sebagai bentuk dukungan emosional.

“Apakah memeluk dan mencium kening itu termasuk pelecehan seksual? Saya tidak tahu. Pola pendekatan kepelatihan saya memang seperti itu,” terang dia.

Hendra bersikukuh. Dia menyatakan tak pernah sekalipun menyentuh area sensitif atau alat vital atlet. “Tidak ada menyentuh alat vital atau bagian lain. Itu sangat jauh. Saya tidak melakukan hal-hal di luar batas,” tegasnya.

Nah, di tengah dua versi yang berseberangan ini, publik kini menunggu langkah lanjutan dari federasi. Investigasi yang transparan dan adil menjadi harga mati, bukan hanya untuk mencari keadilan, tapi juga untuk memulihkan kepercayaan di dunia olahraga kita.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar