Prospek ekonomi global mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir, demikian peringatan dari Forum Ekonomi Dunia (WEF). Laporan terbaru Chief Economists' Outlook yang dirilis pada Sabtu (30/5/2026) mengungkapkan bahwa hampir 90 persen kepala ekonom yang disurvei memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat dalam 12 bulan ke depan.
Besarnya perlambatan tersebut, menurut laporan itu, sangat bergantung pada durasi ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung. Jika konflik mereda dalam waktu relatif singkat, ekonomi global masih berpeluang untuk kembali mendapatkan momentum pertumbuhan. Namun, jika ketegangan berlanjut, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi diprediksi akan semakin besar.
Di sisi lain, inflasi global juga diperkirakan akan melonjak tajam. Sekitar 94 persen responden menyatakan ekspektasi bahwa inflasi akan meningkat, terutama didorong oleh penutupan Selat Hormuz. Peristiwa ini telah memicu kenaikan harga energi dan pangan, sekaligus mengganggu rantai pasokan global.
Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara diproyeksikan menjadi wilayah yang paling parah menanggung dampak ekonomi dari konflik yang sedang berlangsung. Sementara itu, tantangan yang dihadapi bervariasi antarwilayah. Di Eropa, kombinasi antara pertumbuhan yang lamban dan kekhawatiran inflasi yang meningkat meningkatkan risiko stagflasi.
Sebaliknya, ekonomi India dan Amerika Serikat diperkirakan tetap relatif tangguh. Ketahanan ini didukung oleh permintaan domestik dan investasi yang kuat di kedua negara tersebut.
Pasar keuangan global juga diprediksi akan mengalami peningkatan volatilitas. Hampir 80 persen ekonom yang disurvei memperkirakan gejolak yang lebih besar di pasar utang swasta selama setahun ke depan. Sekitar tiga perempat responden juga mengantisipasi peningkatan volatilitas di pasar utang publik, sementara 68 persen lainnya memperkirakan fluktuasi yang lebih tinggi di pasar ekuitas.
Meskipun prospek ekonomi secara umum tidak menentu, optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) tetap kuat. Sekitar 92 persen responden memperkirakan adopsi AI akan terus berkembang dalam setahun ke depan. Namun, para ekonom kini menjadi lebih berhati-hati dalam menilai seberapa cepat teknologi AI dapat memberikan peningkatan produktivitas yang signifikan.
Artikel Terkait
Libur Idul Adha dan Hari Lahir Pancasila Dorong Lonjakan Penumpang KAI, Tembus 1,21 Juta Orang
Arsenal Ungguli PSG 1-0 di Babak Pertama Final Liga Champions 2026
Banjir Luwu Utara dan Kutai Barat Landa 28 Ribu Jiwa, Status Tanggap Darurat Diperpanjang
Imigrasi Soekarno-Hatta Ungkap Dua Modus Calon Haji Ilegal: Wisata Palsu hingga Visa Kerja