BNPB: Ribuan Jiwa Terdampak Banjir dan Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia

- Minggu, 31 Mei 2026 | 03:20 WIB
BNPB: Ribuan Jiwa Terdampak Banjir dan Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia

Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir, menyebabkan ribuan jiwa terdampak di berbagai provinsi. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa rangkaian kejadian ini meliputi cuaca ekstrem, banjir, hingga banjir bandang yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi.

Salah satu kejadian yang menonjol adalah cuaca ekstrem di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, yang terjadi pada Kamis (28/5/2026). Peristiwa itu berdampak pada 94 kepala keluarga atau 348 jiwa, serta merusak 94 unit rumah. “Sebanyak 94 kepala keluarga atau 348 jiwa terdampak dan 94 unit rumah mengalami kerusakan akibat kejadian tersebut,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Sabtu (30/5/2026).

Sementara itu, banjir di Kota Manado, Sulawesi Utara, dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi pada Rabu (27/5/2026). Bencana ini berdampak pada 314 kepala keluarga atau 968 jiwa, di mana 215 kepala keluarga atau 747 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Sebanyak 468 unit rumah tercatat terendam genangan air.

Di sisi lain, BNPB masih memantau sejumlah kejadian yang berada dalam tahap penanganan dan pembaruan data. Banjir bandang di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, yang terjadi pada Selasa (26/5/2026), menjadi salah satu peristiwa yang menonjol. “Bencana tersebut berdampak pada 747 kepala keluarga atau 3.524 jiwa, 724 unit rumah terdampak, tiga unit rumah hanyut, serta 20 unit rumah mengalami rusak berat,” paparnya.

Di Provinsi Sulawesi Selatan, banjir di Kabupaten Luwu Utara yang terjadi pada Rabu (13/5/2026) masih terus dipantau. Bencana ini berdampak pada 3.685 kepala keluarga atau 13.114 jiwa, dengan 14 jiwa masih mengungsi dan 3.685 unit rumah terdampak. Hingga kini, banjir belum surut dan curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih melanda wilayah terdampak.

Provinsi Kalimantan Timur juga mencatat dampak signifikan akibat banjir di Kabupaten Kutai Barat pada Senin (18/5/2026). Peristiwa itu berdampak pada 4.748 kepala keluarga atau 15.258 jiwa, serta merendam 3.116 unit rumah. Sementara itu, di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, banjir pada Rabu (27/5/2026) berdampak pada 181 kepala keluarga atau 601 jiwa, dengan 12 unit rumah rusak dan 134 unit rumah terdampak.

Selain bencana basah, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau masih menjadi perhatian nasional. Hingga Jumat (29/5/2026), luas lahan terbakar bertambah 4,86 hektare, sehingga total mencapai 14.921,14 hektare. Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan sejak Kamis (13/2/2026) hingga Minggu (30/11/2026).

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Namun, di sisi lain, beberapa wilayah mulai memasuki musim kemarau, meningkatkan potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan,” imbuh Abdul Muhari.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar