Bahlil menekankan, peningkatan ini punya arti penting. Di satu sisi, bisa membantu mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Di sisi lain, langkah ini memperkuat ketahanan energi nasional, terutama saat harga energi global sedang tak menentu. Selain itu, semua upaya pengembangan EBT ini jelas sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menekan emisi dan menuju transisi energi bersih.
Namun begitu, Bahlil tak menampik bahwa capaian saat ini masih belum memenuhi target jangka menengah yang ditetapkan. Itu sebabnya, pada 2026 nanti, pemerintah akan fokus pada percepatan proyek, menyederhanakan perizinan, dan memperkuat insentif untuk menarik lebih banyak investasi.
Ia juga memberikan catatan menarik soal angka persentase tersebut.
"Sebenarnya penambahan kapasitas EBT ini cukup besar di tahun 2025. Tapi kalau dikonversi menjadi persentase, karena ada penambahan 7 GW dari gas dan batu bara, maka persentasenya jadi terlihat tak sebesar yang dibayangkan," ujar Bahlil.
Ke depannya, pemerintah berharap tren positif ini bisa terus berlanjut. Optimisme itu ditopang oleh proyeksi masuknya sejumlah proyek besar, seperti PLTA skala besar, pengembangan panas bumi, dan ekspansi pembangkit surya di berbagai daerah. Semuanya diharapkan bisa mendongkrak angka bauran EBT di tahun-tahun mendatang.
Artikel Terkait
Tiongkok Larang Drama Pendek Romansa CEO yang Pamer Harta
Pemulihan Pascabencana di Sumatera Dipercepat, Fokus pada Pendidikan dan Rumah Ibadah Jelang Ramadan
Pertamina Sediakan 654 Ribu Liter BBM Gratis untuk Logistik Banjir Bandang Sumatera
Pandji Pragiwaksono Segera Dimintai Klarifikasi Polisi Soal Materi Stand Up Comedy