Pandji Pragiwaksono: Ketika Panggung Komedi Jadi Ruang Kritik Terakhir

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 13:00 WIB
Pandji Pragiwaksono: Ketika Panggung Komedi Jadi Ruang Kritik Terakhir

Pandji dan Kemarahan yang Disampaikan dengan Tawa

✍🏻 Markijok

“Indonesia hanya berubah kalau itu dimulai dari kita sendiri. Kita tidak mungkin menggantungkan pada pemerintah. Mau berharap pada siapa lagi? Polisi membunuh, tentara berpolitik, presiden mau maafkan koruptor, wakil presiden kita… Gibran!”

Kurang lebih begitulah pernyataan penutup Pandji Pragiwaksono di Mens Rea. Seingat saya, podcast ini lahir pasca Pilpres 2024. Sebuah kanal yang sengaja dia buat untuk menyalurkan daya kritisnya. Awalnya dia mengundang mantan-mantan kandidat, lalu berkembang jadi pertunjukan stand up comedy di gedung penonton.

Nah, Pandji ini komika. Dia pernah jadi relawan politik juga. Tahun 2014 dia influencer-nya Jokowi. Lalu 2019 dia absen, memilih mendukung Anies Baswedan di Pilgub DKI melawan Ahok – yang sempat bikin dia kontroversial. Di 2024, dia lagi-lagi berada di barisan Anies-Muhaimin. Tapi setelah itu, dia bisa balik ke dunia hiburan dengan mulus. Kanal Mens Rea-nya jadi magnet baru.

Karirnya panjang. Mulai dari penyiar Radio Hard Rock, lalu merambah TV lewat acara Kena Deh! yang dulu lumayan populer. Latar belakang pendidikannya dari ITB, Fakultas Seni Rupa dan Desain. Jadi ya, dia orang kreatif sekaligus terdidik. Itu yang bikin dia punya ‘massa’ sendiri – penonton yang loyal.

Keahliannya di panggung memang tak diragukan. Perbendaharaan kata kaya, timing-nya pas, improvisasinya menghanyutkan. Itu kunci seorang komika sukses.

Nah, soal Mens Rea yang di Netflix itu, sebenarnya adalah rekaman pertunjukan di Jakarta, Agustus 2025. Tiketnya mahal, sampai jutaan rupiah. Tapi gilanya, sold out! Ribuan kursi terisi penuh.

Saya nonton begitu tayang di Netflix akhir 2025. Langsung terasa, ini bakal disukai banyak orang. Materinya, istilah anak sekarang, ‘kena banget’. Penontonnya jelas kaum kelas menengah, terdidik. Soalnya, buat ngerti dan nertawa lihat stand up macam ini, perlu koneksi pikiran yang cepat. Harus paham simbol-simbol yang diselipin, tahu arah kritiknya ke mana.


Halaman:

Komentar