BEI Dibanjiri Emisi Baru, IHSG Nyaris Sentuh 9.000 di Awal 2026

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:55 WIB
BEI Dibanjiri Emisi Baru, IHSG Nyaris Sentuh 9.000 di Awal 2026

Minggu pertama di tahun 2026 ternyata cukup sibuk untuk Bursa Efek Indonesia. Pasar modal kita mencatat aktivitas yang cukup menggembirakan, dengan gelombang pencatatan instrumen baru dan sentimen positif yang kuat di pasar saham sepanjang 5 hingga 9 Januari. Intinya, ada empat sekuritas baru yang masuk: tiga obligasi dan satu sukuk.

Rabu, 7 Januari, menjadi hari yang cukup ramai. Dua instrumen dari PT Eagle High Plantations Tbk resmi tercatat: Obligasi Berkelanjutan I Tahap III 2025 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap II 2025. Nilainya gak main-main, lho. Obligasi itu senilai Rp210 miliar, sementara sukuk-nya lebih besar lagi, Rp290 miliar.

Soal kualitas, PEFINDO memberi sinyal hijau. Obligasi Eagle High dapat peringkat idA- (atau Single A Minus). Sukuk-nya pun dapat nilai setara, idA- sy untuk versi syariah. Nah, yang urus administrasinya sebagai wali amanat adalah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk.

Masih di hari Rabu yang sama, giliran PT Summarecon Agung Tbk yang meluncurkan obligasi. Obligasi Berkelanjutan V Tahap I 2025 mereka tercatat dengan nilai hampir Rp352 miliar. Untuk yang satu ini, peringkatnya lebih tinggi dikit, idA (Single A Plus). PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk yang ditunjuk sebagai wali amanat.

Tak ketinggalan, PT Energi Mega Persada Tbk juga meramaikan pasar. Obligasi Berkelanjutan I Tahap I 2025 mereka senilai Rp500 miliar resmi masuk papan. Peringkatnya sama bagusnya dengan milik Summarecon, yaitu idA dari PEFINDO. Dan lagi-lagi, BRI yang dipercaya menjadi wali amanat.

Dengan tambahan ini, totalnya sudah empat emisi dari tiga emiten sepanjang 2026, dengan nilai terkumpul Rp216,97 triliun. Kalau dilihat secara keseluruhan, angka kumulatifnya makin gede. BEI kini mencatat 662 emisi obligasi dan sukuk! Nilai outstanding-nya mencapai Rp539,79 triliun plus USD134 juta lebih, berasal dari 136 emiten.

Di sisi lain, instrumen pemerintah juga punya porsi besar. Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat ada 190 seri dengan nilai fantastis: Rp6.484,29 triliun. Untuk Efek Beragun Aset (EBA), jumlahnya 6 emisi senilai Rp3,99 triliun.

Lalu, bagaimana dengan pasar saham? Ternyata kinerjanya juga solid. Semua metrik penting meroket. Yang paling mencolok sih volume transaksi harian rata-rata, yang melesat 48,08% jadi 61,78 miliar lembar saham. Pekan sebelumnya cuma 41,72 miliar.

Nilai transaksi harian rata-rata juga ikut naik tajam, 44,68% menjadi Rp31,45 triliun. Frekuensi transaksinya pun tak ketinggalan, naik 42,74% ke level 3,98 juta kali sehari. Pekan lalu masih sekitar 2,79 juta kali. Jadi, aktivitasnya benar-benar hidup.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut merasakan euforia ini, menguat 2,16% ke level 8.936,754. Tapi yang lebih seru, Rabu (7/1) kemarin IHSG sempat mencatat rekor sejarah baru di 8.944,813. Bahkan, keesokan harinya, Kamis 8 Januari, sempat menyentuh level psikologis 9.000 secara intraday! Puncaknya ada di 9.002,92. Sayangnya, tutupnya belum bisa bertahan di sana.

Seiring meroketnya indeks, kapitalisasi pasar BEI otomatis terdongkrak. Angkanya naik 1,79% menjadi Rp16.301 triliun. Yang menarik, investor asing terlihat aktif membeli. Mereka mencatatkan pembelian bersih Rp2,56 triliun pada periode tersebut. Dan sejak awal tahun, akumulasi beli bersih mereka sudah Rp3,1 triliun. Lumayan, kan?

(Shifa Nurhaliza Putri)

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar