Trade Expo Indonesia (TEI) bakal digelar lagi tahun ini. Menurut rencana, pameran dagang internasional terbesar di tanah air itu akan berlangsung di ICE BSD, Tangerang, pada 14 hingga 18 Oktober 2026. Nah, dalam peluncurannya Kamis lalu, Menteri Perdagangan Budi Santoso sudah menancapkan target yang ambisius.
Beliau mengumumkan target transaksi untuk TEI ke-41 ini sebesar USD 17,5 miliar. Angka itu naik dari target tahun lalu yang 'cuma' USD 16,5 miliar. Tapi optimisme Mendag punya dasar. Soalnya, tahun 2025 kemarin, realisasinya malah melonjak jauh hingga mencapai USD 22,83 miliar. "Alhamdulillah terealisasi melebihi target. Kami optimistis tahun ini bisa terlampaui lagi dengan persiapan yang lebih komprehensif," ujar Budi Santoso.
Lantas, strategi apa yang disiapkan? Kementerian Perdagangan nggak mau lagi mengandalkan momentum lima hari pameran saja. Mereka merancang tiga tahapan terintegrasi yang dimulai jauh hari sebelumnya.
Pertama, penjajakan bisnis atau business matching secara daring lewat perwakilan dagang RI di luar negeri. "Jadi, ketika buyer datang ke TEI 2026, prosesnya tinggal finalisasi dan transaksi. Bahkan, transaksi bisa terjadi sebelum pameran dibuka," jelas Mendag. Setelah pameran usai, tahap ketiga adalah monitoring dan pengawalan kontrak dagang, memastikan janji jadi kenyataan.
Dia pun mengajak semua pelaku usaha, asosiasi, dan pemangku kepentingan untuk ambil bagian. Momen ini disebutnya peluang emas buat memperluas pasar ekspor.
Nah, buat pengunjung, TEI 2026 bakal menampilkan lima sektor andalan. Mulai dari makanan dan produk pertanian, manufaktur, sampai fesyen dan furnitur. Sepuluh aula di ICE BSD akan ditata dengan zonasi khusus agar business matching berjalan efektif.
Di sisi lain, respons dari pelaku usaha pun cukup positif. Ambil contoh Aprindo, asosiasi retailer ternama.
"Kami tertarik buka stan lagi tahun ini," kata Dendi Wibowo, perwakilan Aprindo.
Pada TEI sebelumnya, mereka membawa sekitar lima UMKM binaan. Buat Dendi, acara ini strategis banget buat mempertemukan pelaku usaha kecil dengan buyer potensial, mengingat keramaian dan keberagaman pengunjungnya. Harapannya, TEI 2026 bisa jadi platform promosi yang lebih kuat, membantu UMKM siap ekspor untuk benar-benar go global.
Suara lain datang dari dunia industri. Adara, Junior Manager International Business PT Burden Eagle Indonesia, berharap ada inovasi lebih lanjut dari penyelenggara.
"Khususnya soal akses data pengunjung bagi peserta. Itu akan memudahkan pendekatan kami ke buyer," ujarnya.
Meski begitu, Adara mengapresiasi responsifnya pihak penyelenggara, Debindo, selama persiapan berlangsung. Komunikasi berjalan cukup baik.
Jadi, semua mata kini tertuju pada Oktober mendatang. Apakah target USD 17,5 miliar itu bisa dipukul lagi, atau bahkan ditinggalkan jauh di belakang? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Bandara Changi Catat Rekor Penumpang Meski Penerbangan Timur Tengah Anjlok
VIVA Apotek Akuisisi Penuh Farmaku, Perkuat Jaringan Ritel Farmasi
Empat Raksasa K-Pop Rencanakan Festival Global untuk Saingi Coachella
BMKG Proyeksikan Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang