Laporan terbaru dari Kementerian ESDM menunjukkan ada angin segar untuk energi hijau di Indonesia. Sepanjang 2025, porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional berhasil naik. Angkanya mencapai 15,75 persen, tumbuh dari posisi tahun sebelumnya yang berada di 14,65 persen. Jadi, ada kenaikan sekitar 1,1 persen.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan data ini dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Kamis lalu (8/1/2026).
"EBT kita di 2024 itu 14,65 persen, kemudian di tahun 2025 itu 15,75 persen. Jadi ada penambahan EBT sebesar 1,1 persen," jelas Bahlil.
Menurutnya, capaian ini didorong oleh penambahan kapasitas pembangkit energi bersih yang cukup signifikan. Hingga akhir Desember 2025, total kapasitas terpasang EBT menyentuh 15.630 megawatt. Ini disebut-sebut sebagai tambahan kapasitas terbesar dalam kurun lima tahun terakhir.
Kalau dirinci, kontributor terbesarnya masih didominasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 7.587 MW. Posisi berikutnya diisi panas bumi (2.744 MW) dan bioenergi (3.148 MW). Sementara untuk energi surya, kapasitasnya tercatat 1.494 MW. Masih ada angin (152 MW), sampah (36 MW), gasifikasi batu bara (450 MW), dan beberapa kategori lain yang menyumbang 18 MW.
Artikel Terkait
Tiongkok Larang Drama Pendek Romansa CEO yang Pamer Harta
Pemulihan Pascabencana di Sumatera Dipercepat, Fokus pada Pendidikan dan Rumah Ibadah Jelang Ramadan
Pertamina Sediakan 654 Ribu Liter BBM Gratis untuk Logistik Banjir Bandang Sumatera
Pandji Pragiwaksono Segera Dimintai Klarifikasi Polisi Soal Materi Stand Up Comedy