Cadangan Beras Tembus 3 Juta Ton, Prabowo: Tertinggi Sepanjang Sejarah RI

- Selasa, 06 Januari 2026 | 17:50 WIB
Cadangan Beras Tembus 3 Juta Ton, Prabowo: Tertinggi Sepanjang Sejarah RI

Di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, suasana retret kabinet pekan ini diwarnai satu pengumuman penting dari Presiden. Prabowo Subianto, dengan nada bangga, mengungkapkan bahwa cadangan beras di gudang Bulog kini telah menembus angka lebih dari 3 juta ton. Sebuah rekor baru.

“Saya juga cukup merasa besar hati, bangga bahwa hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Republik Indonesia,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikannya saat memimpin taklimat awal tahun Kabinet Merah Putih, Selasa lalu. Menurut Prabowo, angka ini bahkan melampaui catatan tertinggi era swasembada pangan di masa Presiden Soeharto, yang ‘hanya’ berkisar 2 juta ton. Sebuah pencapaian yang ia sebut sebagai hasil kerja keras semua pihak.

“Hari ini cadangan beras kita di gudang pemerintah lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Ini saya kira adalah akibat kerja keras semua unsur saudara-saudara,” tambahnya di hadapan para menteri.

Namun begitu, ini bukan akhir perjalanan. Pencapaian stok beras itu disebutnya hanya bagian dari target yang jauh lebih besar: mewujudkan swasembada pangan nasional. Ia memberi target empat tahun kepada para menteri terkait untuk mewujudkannya.

Meski demikian, Prabowo rupanya optimis. Ia menduga target itu bisa tercapai lebih cepat, bahkan berpotensi terwujud pada akhir tahun 2025 nanti. Artinya, di tahun pertama pemerintahannya.

Di sisi lain, Presiden tak lupa mengingatkan alasan mendasar di balik ambisi swasembada ini. Bagi Prabowo, kemandirian pangan adalah syarat mutlak bagi bangsa yang benar-benar merdeka. Tanpa itu, kedaulatan hanyalah ilusi.

Kekhawatirannya punya dasar. Kondisi geopolitik global saat ini dinilainya semakin tidak menentu. Ia menyoroti negara-negara sumber impor beras tradisional Indonesia yang kini dilanda gejolak.

“Kalau kita tidak swasembada beras, di tengah konflik di mana-mana... sumber impor beras kita tadinya adalah Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Sekarang Thailand sama Kamboja perang. Terus setelah perang, negosiasi, senjata-senjata, damai, meletus lagi,” paparnya, menggambarkan ketidakpastian yang membayangi.

Oleh karena itu, fokusnya tak hanya pada beras. Presiden juga menekankan pentingnya kemandirian untuk komoditas pangan lain. Jagung dan singkong sebagai sumber karbohidrat alternatif, plus berbagai sumber protein, harus dikuatkan. Semua demi satu hal: ketahanan pangan nasional yang tangguh menghadapi gelombang ketidakpastian global yang mungkin akan terus datang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar