Mahfud MD Luncurkan Buku Baru, Ungkap Keresahan terhadap Penegakan Hukum di Indonesia

- Kamis, 04 Juni 2026 | 11:00 WIB
Mahfud MD Luncurkan Buku Baru, Ungkap Keresahan terhadap Penegakan Hukum di Indonesia

Keresahan pribadi terhadap realitas penegakan hukum di Indonesia menjadi energi utama di balik lahirnya buku terbaru mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Mahfud MD. Buku yang diberi judul Pemikiran Hukum dan Politik Mahfud MD itu resmi diluncurkan di Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026, dalam sebuah acara yang digelar di Gedung Harian Kompas. Peluncuran tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, akademisi, hingga seniman.

Dalam sambutannya, Mahfud mengungkapkan bahwa hampir seluruh tulisan yang terkumpul dalam buku ini lahir dari rasa marah terhadap dinamika politik dan perkembangan hukum di tanah air. Menurutnya, tidak semua persoalan politik bersifat buruk, begitu pula dengan hukum. Namun, ketika terjadi masalah dalam penegakan hukum, ia merasa perlu untuk meresponsnya melalui tulisan.

“Hampir semua tulisan saya itu adalah kemarahan. Kemarahan terhadap keadaan politik dan perkembangan hukum. Di saat-saat terjadi masalah di bidang politik, kan tidak semua masalah politik itu jelek, tetapi hukum juga begitu. Tetapi kalau terjadi masalah dalam penegakan hukum saya marah, lalu saya nulis,” kata Mahfud.

Lebih lanjut, Mahfud menegaskan bahwa buku ini tidak sekadar membahas pasal-pasal formal dalam hukum. Ia justru menekankan pentingnya fondasi hukum substantif yang bertumpu pada filosofi dan asas. Menurutnya, pemahaman terhadap asas dan filosofi jauh lebih esensial ketimbang sekadar adu argumentasi tentang pasal.

“Saya selalu kaitkan dengan filosofi dan asas hukumnya, tidak bicara soal pasal-pasal. Tidak harus belajar hukum jauh-jauh kalau cuma mau adu pasal itu. Tetapi asas dan filosofi itu menjadi sangat penting,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Adi Prinantyo, menjelaskan bahwa penerbitan buku ini merupakan wujud nyata fungsi media massa dalam menjaga literasi dan melanggengkan pemikiran para tokoh bangsa. Ia menekankan bahwa pers tidak hanya berperan sebagai kontrol sosial, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik.

“Wujud fungsi kontrol sosial dan juga fungsi edukasi pers adalah penerbitan buku. Sehingga sampai sekarang Penerbit Buku Kompas (PBK) masih terus aktif menerbitkan buku untuk memantik literasi di publik kita, karena verba volant, scripta manent. Verba volant, apa yang terucap gampang terlupa; scripta manent, apa yang tercetak dan dibaca akan tertanam di benak,” ungkap Adi.

Di sisi lain, mantan Ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan, menyambut baik peluncuran buku ini. Ia sebelumnya merasa gelisah karena pemikiran-pemikiran tajam Mahfud MD hanya tersebar secara parsial di berbagai media massa. Bagir berharap agar gagasan-gagasan tersebut dapat terhimpun dalam satu buku agar lebih abadi dan dapat dibaca secara lebih mendalam oleh banyak orang.

“Saya maunya dia menuliskan semua itu jadi buku gitu. Pemikiran-pemikirannya supaya selain abadi, bisa dibaca lebih teliti oleh banyak orang. Kan kalau di TV kan selewat saja, koran juga hari ini, besok sudah entah ke mana. Alhamdulillah, terwujud hari ini atas bantuan Kompas bisa terbit,” ungkap Bagir.

Bagir kemudian mengingatkan pentingnya integrasi antara hukum dan politik dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, kedua ranah tersebut harus berjalan beriringan untuk menata masa depan bangsa.

“Mari kita hidup dalam kedua dunia itu untuk menata masa depan bangsa kita, negara kita sebaik-baiknya,” tuturnya.

Setelah sesi peluncuran, acara dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Yanuar Nugroho. Diskusi tersebut dipandu oleh Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, Paulus Tri Agung Kristanto.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags