Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai Amerika Serikat mengubah kebijakan permusuhannya dan memenuhi sejumlah tuntutan. Penegasan ini disampaikan di tengah kebuntuan perundingan mengenai masa depan pelayaran di jalur perairan strategis tersebut.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, mengatakan AS harus memperbaiki perilaku jika ingin Selat Hormuz kembali dibuka. Ia menyebutkan enam syarat yang harus dipenuhi Washington, termasuk mengakhiri ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Syarat lain yang diajukan adalah menghentikan operasi militer secara permanen terhadap Iran dan kelompok proksinya di kawasan, menarik pasukan angkatan laut dan udara yang terlibat blokade, memberikan ganti rugi atas kerusakan akibat konflik, mencabut sanksi, serta mencairkan aset Iran yang dibekukan.
Menurut Zolghadr, tuntutan-tuntutan itu mencerminkan kehendak rakyat Iran, merujuk pada demonstrasi besar-besaran yang berlangsung selama enam hari terakhir. "Dewan Keamanan Nasional Tertinggi tidak akan mundur dari tuntutan-tuntutan ini, baik dalam situasi perang maupun perundingan," ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu, Minggu (9/8/2026).
Pernyataan ini muncul setelah Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar, yang mengakhiri perang sejak 28 Februari. Namun, pelaksanaan kesepakatan terhenti pada 7 Juli karena kedua pihak saling menuduh melanggar ketentuan, terutama terkait Selat Hormuz.
Artikel Terkait
Harga Minyak Menguat Tipis di Akhir Pekan, tapi Terjun Bebas Secara Mingguan
Iran Ajukan Sederet Syarat untuk Buka Selat Hormuz, Termasuk Pencabutan Sanksi
Iran Tetapkan Enam Syarat Berat untuk Buka Kembali Selat Hormuz
Iran dan Oman Rundingkan Skema Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz