Ketika seorang reporter menanyakan apakah ini berarti operasi AS akan menyusul di Kolombia, jawabannya singkat tapi penuh arti. "Kedengarannya bagus bagi saya," katanya. Cukup jelas, bukan?
Sebenarnya, hubungan kedua negara sudah memanas berbulan-bulan. Pengerahan militer AS di kawasan Karibia semakin intens, dan Petro termasuk salah satu suara paling lantang mengkritik Trump. Menurut sejumlah analis, ketegangan ini sudah mengendap lama.
Pada akhir pekan lalu, misalnya, Petro secara terbuka mengecam aksi AS di Venezuela. Dia menyebutnya sebagai serangan terhadap kedaulatan Amerika Latin yang berpotensi memicu krisis kemanusiaan parah.
Kritik-kritik pedas itulah yang rupanya memantik kemarahan Trump. Pada hari Sabtu, dia memberi sinyal peringatan: pemimpin Kolombia itu harus berhati-hati. Ancaman itu kini menggantung, menambah daftar ketidakstabilan di kawasan.
Artikel Terkait
Pemerintah Susun RUU Ketenagakerjaan Baru Akomodir Permintaan AS dan Integrasikan Pasal UU Cipta Kerja
Bnetfit Transformasi dari ISP ke Solusi ICT, Target Jadi Juara Nasional 2026
Sekjen Kabinet Bantah Isu Pemerintah Abaikan Guru, Sebut Tiga Bukti Perhatian
Indonesia Kecam Aneksasi Israel di Tepi Barat sebagai Pelanggaran Hukum Internasional