Ketika seorang reporter menanyakan apakah ini berarti operasi AS akan menyusul di Kolombia, jawabannya singkat tapi penuh arti. "Kedengarannya bagus bagi saya," katanya. Cukup jelas, bukan?
Sebenarnya, hubungan kedua negara sudah memanas berbulan-bulan. Pengerahan militer AS di kawasan Karibia semakin intens, dan Petro termasuk salah satu suara paling lantang mengkritik Trump. Menurut sejumlah analis, ketegangan ini sudah mengendap lama.
Pada akhir pekan lalu, misalnya, Petro secara terbuka mengecam aksi AS di Venezuela. Dia menyebutnya sebagai serangan terhadap kedaulatan Amerika Latin yang berpotensi memicu krisis kemanusiaan parah.
Kritik-kritik pedas itulah yang rupanya memantik kemarahan Trump. Pada hari Sabtu, dia memberi sinyal peringatan: pemimpin Kolombia itu harus berhati-hati. Ancaman itu kini menggantung, menambah daftar ketidakstabilan di kawasan.
Artikel Terkait
Kementerian HAM Buka 500 Formasi PPPK, Pendaftaran Dimulai Awal Januari
Kemacetan dan Infrastruktur yang Tersendat Ancam Pesona Bali di Mata Wisatawan
Benteng Pendem Ambarawa: Kisah yang Kini Bisa Disambung Kembali
Setelah 29 Tahun, Kisah Cinta Ridwan Kamil dan Atalia Berakhir di Pengadilan Agama