Dana segar sebesar Rp23 triliun yang disuntikkan ke Garuda Indonesia sejak tahun lalu, ternyata sudah habis digunakan. Uang sebesar itu, menurut Rohan Hafas dari Danantara Indonesia, dialokasikan terutama untuk menutup berbagai utang yang menumpuk.
Rohan, yang menjabat sebagai Managing Director Stakeholders Management, membeberkan rinciannya. Dari total suntikan modal, porsi terbesar sekitar Rp15 triliun justru dialirkan ke Citilink. Alasannya cukup mendesak.
"Update capital injection yang tahun lalu, penggunaannya kan 63 persen dari setoran Rp23 triliun, Rp15 triliun nya itu ke Citilink," jelas Rohan di Wisma Danantara, Kamis (26/2) lalu.
"Karena kalau tidak dikasih dana, pesawatnya sudah 70 persen nggak boleh terbang. Belum diservice," tambahnya.
Memang, situasi pasca pandemi Covid-19 meninggalkan luka dalam. Banyak armada Citilink yang terbengkalai, perawatannya tertunda karena maskapai kesulitan mendapat pemasukan. Biaya perawatan, sayangnya, tetap harus jalan meski penumpang nyaris tak ada.
Akibatnya, tunggakan membengkak. Dana injeksi itu akhirnya dipakai untuk membayar utang service pesawat dan juga tunggakan pembelian avtur. Menurut Rohan, ini bukan pemborosan, melainkan keharusan.
"Jadi bukan inject dibuang. Itu ongkos service yang ditunda karena Covid, penumpangnya juga tidak ada, dibiarkan saja dulu. Waktu harus service, sudah menumpuk," ujarnya menggambarkan kondisi saat itu.
Di sisi lain, ada lagi alokasi dana sebesar Rp3 triliun. Angka ini dipakai khusus untuk melunasi utang bahan bakar minyak (BBM) maskapai kepada Pertamina.
Namun begitu, kondisi pasca pandemi rupanya belum sepenuhnya memberi angin segar. Periode ini belum cukup menguntungkan bagi Garuda dan anak perusahaannya. Masih banyak pesawat yang belum bisa beroperasi penuh karena perbaikannya belum rampung.
Pendapatan yang masuk pun, meski penerbangan sudah berjalan, jumlahnya terbatas. Uang itu nyaris hanya cukup untuk membayar gaji kru dan biaya perawatan harian.
"Kalau terbang pun, uangnya dipakai buat maintenance, pegawai, buat segala macam," kata Rohan.
Keadaan itulah, menurutnya, yang membuat dampak suntikan modal baru terasa sekarang terhadap kinerja keuangan Garuda. Sebuah proses pemulihan yang ternyata butuh waktu dan dana yang tidak sedikit.
Artikel Terkait
Belasan IKM Binaan Kemenperin Masuk Rantai Pasok Perlengkapan Haji 2026
Negosiasi Impor LPG dari Rusia Masih Alot di Tengah Lonjakan Kebutuhan Nasional
Prabowo Terbitkan Tiga Aturan Baru untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Mendikti Siapkan Sinergi Nasional Tangani Kekerasan Seksual di Kampus