Prajogo Pangestu Borong Rp100 Miliar Saham CUAN di Tengah Kejatuhan Pasar

- Kamis, 29 Januari 2026 | 11:15 WIB
Prajogo Pangestu Borong Rp100 Miliar Saham CUAN di Tengah Kejatuhan Pasar

Pasar saham lagi-lagi bergejolak hebat. Tapi di tengah kepanikan itu, ada satu nama yang justru sibuk membeli. Prajogo Pangestu, sang pengendali Barito Group, kembali melakukan aksi akumulasi saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Transaksi besar itu terjadi Rabu kemarin, tepat saat IHSG ambruk. Data mencatat, konglomerat tersebut memborong sekitar 84 juta saham CUAN. Saham CUAN sendiri pada hari itu terpuruk, ditutup anjlok 12,3 persen ke level Rp1.560 per lembar.

Menurut keterbukaan informasi yang dirilis Kamis (29/1/2026), Prajogo menyatakan tujuannya sederhana: investasi pribadi.

“Tujuan transaksi untuk investasi pribadi,” ujarnya singkat.

Dia membeli saham-saham itu dalam rentang harga Rp1.525 sampai Rp1.580. Kalau dihitung-hitung, Prajogo merogoh kocek dalam-dalam, lebih dari Rp100 miliar, untuk transaksi tunggal ini. Aksi belinya ternyata diikuti rebound yang cukup signifikan. Menjelang penutupan sesi I, harga saham CUAN bangkit dan melonjak 9,3 persen ke posisi Rp1.700.

Dengan pembelian fresh ini, kepemilikan Prajogo di Petrindo melonjak jadi 94,53 miliar saham. Angka itu setara dengan 84,08 persen dari total modal perusahaan. Ini bukan kali pertama dia menambah porsi. Sebelumnya, pada 15 Januari lalu, dia juga membeli, meski jumlahnya lebih kecil: 3,5 juta saham senilai Rp6,5 miliar.

Lantas, kenapa aksi ini menarik perhatian? Soalnya, saham-saham grup Prajogo sedang tertekan berat. Pemicunya adalah pengumuman MSCI soal pembekuan pasar modal Indonesia, yang juga dirilis Rabu lalu. Tekanan itu terasa di banyak emiten miliknya. Lihat saja PT Petrosea Tbk (PTRO), yang hari ini kembali terjun bebas 15 persen ke level Rp6.225.

Di tengah badai itu, aksi akumulasi besar-besaran oleh sang pemilik utama ini seperti memberikan sinyal tersendiri. Apakah ini bentuk kepercayaan diri, atau sekadar strategi averaging belaka? Wallahu a'lam. Yang jelas, pasar selalu punya cerita.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar