Seorang bintang baru mulai bersinar di Piala Dunia 2026. Namanya adalah Yasin Ayari, gelandang muda Swedia kelahiran Solna yang sukses mencuri perhatian dunia setelah mencetak dua gol dalam kemenangan telak 5-1 atas Tunisia di Stadion BBVA, Monterrey, Meksiko, pada Senin, 15 Juni 2026.
Akan tetapi, yang membuat publik terkesan bukan semata kemampuannya membaca ruang dan akurasi umpan di lini tengah. Selebrasi usai menjebol gawang Tunisia justru menjadi sorotan utama. Ayari memilih tidak merayakan gol perdananya secara berlebihan. Ia langsung bersujud syukur di lapangan. Gelandang berusia 22 tahun itu hanya mengangkat tangan sesaat setelah bola meluncur keras ke sudut gawang. Tidak ada selebrasi yang mencolok, ia memilih sikap hormat kepada negara leluhurnya. Ternyata, Yasin masih memiliki darah Tunisia, negara asal ayahnya.
Yasin Abbas Ayari lahir di Solna, pinggiran Kota Stockholm, Swedia, pada 6 Oktober 2003. Ia tumbuh dalam keluarga imigran yang multikultural. Sang ayah berasal dari Tunisia, sementara ibunya berdarah Maroko. Seperti banyak keluarga imigran di Eropa, orang tua Ayari merantau demi kehidupan yang lebih baik. Di lingkungan perpaduan budaya Skandinavia dan Afrika Utara itulah Ayari mulai mengenal sepak bola.
Bakatnya terlihat sejak kecil. Ia memulai karier di klub lokal Rasunda sebelum bergabung dengan akademi AIK Solna, salah satu klub elite di Swedia. Di sana, ia berkembang menjadi gelandang modern yang lincah, cerdas, dan memiliki visi permainan di atas rata-rata. Debut profesional bersama AIK di usianya yang ke-17 menjadi batu loncatan. Namanya mulai masuk radar klub-klub Eropa.
Lompatan besar dalam kariernya terjadi pada Januari 2023. Brighton & Hove Albion, salah satu klub Liga Inggris yang gemar mengorbitkan pemain muda, merekrut Ayari dari AIK. Perjalanan menuju tim utama tidak mudah. Ayari sempat dipinjamkan ke klub Championship, Coventry City dan Blackburn Rovers, untuk mendapatkan jam terbang. Pengalaman di kasta kedua Inggris itu menjadi fase yang membuat permainannya semakin matang. Setelah kembali ke Brighton, ia perlahan mendapat kepercayaan. Pada musim 2025/2026, Ayari tampil reguler di Premier League dan menunjukkan perkembangan signifikan sebagai gelandang serba bisa.
Sebagai pemain keturunan Tunisia dan Maroko yang lahir di Swedia, Ayari memiliki tiga opsi kebangsaan untuk berlaga di level internasional. Ia bisa saja menjalani debut Piala Dunia bersama Tunisia atau Maroko, tapi Ayari memilih Swedia. Keputusan itu tidak berarti ia meninggalkan akar budayanya. Berulang kali ia menegaskan rasa hormat kepada Tunisia dan Maroko. Namun baginya, Swedia adalah rumah yang membentuk perjalanan hidup dan kariernya.
Pilihan itu terbukti tepat. Ayari berkembang melalui kelompok umur timnas Swedia sebelum menjalani debut senior pada Januari 2023. Kini ia menjadi bagian penting dalam regenerasi sepak bola Swedia pasca-era Zlatan Ibrahimovic. Penampilan gemilang Ayari di laga perdana Grup F langsung mengangkat namanya. Ia tidak hanya mencetak dua gol, tetapi juga tampil dominan di lini tengah saat Swedia menghancurkan Tunisia 5-1.
Media Eropa menyebut pertandingan itu sebagai momen kedatangan Ayari di panggung sepak bola dunia. Pada usia yang masih sangat muda, ia menunjukkan ketenangan dan kualitas yang biasanya hanya dimiliki pemain berpengalaman. Jika performanya terus berkembang, bukan tidak mungkin Yasin Ayari akan menjadi salah satu cerita terbesar yang lahir dari Piala Dunia 2026. Dan satu hal yang pasti, ia akan selalu mengingat dari mana akar keluarganya berasal.
Artikel Terkait
Polisi Pastikan Penangkapan Roy Suryo dan dr. Tifa Setelah Berkas Kasus Ijazah Palsu Jokowi Dinyatakan Lengkap
Jembatan Akelamo dan Dermaga Panji Baru Perkuat Konektivitas dan Dorong Ekonomi Masyarakat di Pulau Obi
Warga Semarang Beralih ke Minuman Herbal Imbas Kekhawatiran Kenaikan Harga Obat Kimia
Wamendagri Dorong Praja IPDN Asah Kompetensi Hadapi Peluang Jadi Kepala Daerah