Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus 30,27 juta Single Investor Identification (SID). Angka ini melonjak 158,27 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan sudah melampaui target yang ditetapkan dalam Roadmap 2027.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengatakan pertumbuhan ini tidak lepas dari transformasi digital dan penguatan literasi keuangan masyarakat. "Di pasar modal sendiri, pertumbuhan basis investor tercatat tumbuh secara signifikan. Di mana SID di KSEI sudah tercatat di angka 30,27 juta, atau telah tumbuh sebesar 158,27 persen dari tahun sebelumnya," ujarnya dalam acara puncak peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, di Gedung BEI, Senin (10/8/2026).
Pencapaian ini juga diikuti oleh peningkatan dana kelolaan yang mencapai Rp1.026,05 triliun, tumbuh 103 persen dari target. Namun, di balik optimisme tersebut, OJK mengakui masih ada pekerjaan rumah yang menantang, terutama terkait kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan.
Hingga 7 Agustus 2026, IHSG tercatat terkoreksi 25,87 persen secara year-to-date ke level 6.409,65. Penurunan ini berdampak langsung pada kapitalisasi pasar yang kini berada di angka Rp11.212 triliun, atau setara 47,07 persen dari PDB 2025. Meski secara nominal angka ini tumbuh dibandingkan 2021, namun realisasinya baru mencapai 75 persen dari target Roadmap yang sebesar Rp15.000 triliun. Masih ada gap Rp3.788 triliun yang harus dikejar hingga 2027.
Hasan Fawzi menjelaskan, tekanan yang dihadapi pasar modal tahun ini berasal dari faktor eksternal yang berat. "Kita semua menyadari bahwa pasar modal Indonesia di tahun ini menghadapi tekanan yang cukup berat. Ini tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang year-to-date per 7 Agustus 2026 kemarin terkoreksi sebesar 25,87 persen, dan memang di sisi kapitalisasi pasar saham kita juga turut mengalami penurunan sebesar 29,26 persen," kata Hasan.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak, inflasi global, serta tren kenaikan suku bunga yang menekan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang membebani pasar.
Bursa Masih Butuh Emiten Besar
Selain tekanan eksternal, bursa juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk menarik perusahaan-perusahaan berskala besar (giant) agar melantai. Saat ini, jumlah emiten baru mencapai 962 perusahaan atau 87 persen dari target. Untuk mencapai target 1.100 perusahaan tercatat, bursa membutuhkan tambahan 138 emiten berkualitas tinggi yang mampu menggerakkan kapitalisasi pasar secara signifikan.
Artikel Terkait
OJK Tangani 124 Kasus Pelanggaran Pasar Modal, Denda Capai Rp240,5 Miliar
OJK Siapkan Aturan Pembagian Dividen BEI Usai Demutualisasi
OJK Tangani 124 Kasus Pasar Modal, 35 Selesai dan 89 Masih Diperiksa
IHSG Ditutup Melemah 0,69 Persen ke 6.365,37