Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pembaruan penting: Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) edisi 2025. Pembaruan lima-tahunan ini menggantikan KBLI 2020, dan tujuannya jelas: mengejar ketertinggalan. Dunia ekonomi berubah cepat, dan klasifikasi kita harus bisa menangkap realitas baru, dari geliat ekonomi digital sampai upaya serius menangani perubahan iklim.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan bahwa klasifikasi yang rapi dan terstruktur ini bukan sekadar dokumen. Ini fondasi.
"Setelah diklasifikasikan secara terstandar dan terstruktur, nantinya hasil klasifikasi ini bisa dipakai lebih lanjut," ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (19/12/2025).
"Mulai dari menghasilkan statistik, analisis ekonomi, perumusan kebijakan, hingga hal praktis seperti perizinan usaha."
Lalu, apa yang baru? KBLI 2025 ini berusaha menjaring aktivitas-aktivitas ekonomi yang sebelumnya "tidak kelihatan" atau belum terdefinisi dengan baik. Ambil contoh jasa intermediasi platform digital. Atau Factoryless Goods Producers (FGP), yang kini dilihat lebih dari sekadar aktivitas perdagangan biasa. Dunia konten digital dan media kreatif seperti podcast, game, dan layanan streaming akhirnya mendapat kotaknya sendiri. Begitu pula dengan aktivitas baru semacam perdagangan karbon, energi terbarukan, serta beberapa penyesuaian di sektor jasa keuangan.
Dari segi struktur, ada penambahan satu kategori besar, sehingga total sekarang menjadi 22 kategori (dari A sampai V). Rinciannya cukup kompleks: ada 87 golongan pokok, 257 golongan, 519 subgolongan, dan 1.560 kelompok. Angka-angka itu menunjukkan betapa beragamnya lanskap ekonomi Indonesia saat ini.
Artikel Terkait
Maarten Paes Resmi Jadi Penjaga Gawang Ajax, Kontrak Hingga 2029
EV Tembus 13 Persen, BYD Pacu Geliat Kendaraan Listrik di Indonesia
JK: Dewan Perdamaian Trump Hanya Bisa Hentikan Perang, Bukan Ciptakan Damai
Iran Ingatkan Trump: Invasi Afghanistan dan Irak Adalah Pelajaran Mahal yang Tak Boleh Terulang